0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kebutuhan Air Dengan Perkembangan Hotel di Yogya Tak Seimbang

yogyakarta (merdeka.com)

Timlo.net — Menjelang musim kemarau panjang, warga Yogyakarta bakal dihadapkan pada krisis air. Hal ini karena debit air tanah tidak sebanding dengan banyaknya pihak yang menggunakan, termasuk pengelola hotel.

Kepala Pusat Studi Manajemen Bencana UPN Veteran Eko Teguh Paripurno mengatakan, ada potensi warga akan kesulitan air, sebab perbandingan kebutuhan air warga dengan hotel sudah tidak seimbang.

Eko menyampaikan kebutuhan air warga perorangnya adalah 120 liter per hari, sementara itu untuk hotel kebutuhan harian mencapai 250 sampai 350 liter per orang.

“Kebutuhan air ini sudah tidak seimbang. Kalau per 100 meter hotel itu ada empat kamar, lalu perkamar itu ada dua orang, tinggal dikalikan berapa luas hotel dan tingkatnya, lalu dikalikan berapa jumlah hotel. Maka kita akan melihat kebutuhan itu menjadi tidak seimbang,” kata Eko, Sabtu (30/5).

Dia menjelaskan, selama ini hotel melakukan penyedotan air tanah dengan cara pengeboran. Jika penyedotan air tanah dilakukan dengan berlebihan, maka akan berdampak pada menyusutnya debit sumur warga di sekitar hotel.

“Imbasnya itu, padahal kalau penyedotan itu dilakukan dengan debit yang tepat, dampaknya tidak akan sampai ke warga,” ujarnya.

Karena itu ada beberapa hal yang perlu perhatikan. Apalagi dalam musim kemarau. Salah satunya suplai air PDAM.

“PDAM menyuplai yang tidak menggunakan air tanah, ada hotel yang tidak menggunakan air tanah, maka konsentrasi suplai air akan lebih banyak ke satu titik. Akibatnya sumber mata air yang digunakan PDAM akan mengalami penurunan debit. Imbasnya ke warga sekitar sumber air itu. Ini yang harus di waspadai,” urainya.

Sementara itu direktur Walhi Yogyakarta, Halik Sandera menjelaskan kondisi sumber air yang mensuplai kebutuhan air di Yogyakarta, khususnya yang berasal dari lereng Merapi sudah semakin memprihatinkan. Sebab banyaknya penambangan liar di lereng Merapi merusak sumber mata air itu. Hal ini menurutnya jelas akan berdampak pada kurangnya debit air sumber mata air.

“Kondisi itu semakin memperparah, apalagi ketika musim kemarau, kita khawatir akan terjadi krisis air,” tandasnya.

[cob]

Sumber : Merdeka.com

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge