0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Jajanan Sekolah Rata-Rata Mengandung Boraks

dok.timlo.net/aditya wijaya
Petugas Puskesmas Bayat saat menunjukkan kandungan zat pewarna tekstil pada krupuk pedas (dok.timlo.net/aditya wijaya)

Klaten — Kepala Puskesmas Bayat, Wahyu Ciptadi mengungkapkan, pihaknya tidak terlalu terkejut dengan temuan boraks dan Rhodamin-B pada jajanan di SDN 1 Paseban, Bayat, Kamis (28/5) kemarin. Pasalnya, beberapa hari terakhir gelaran inspeksi mendadak (sidak), pihaknya juga menemukan kandungan serupa.

“Lima hari terakhir kita menggelar sidak serupa di sepuluh SD di Bayat. Setelah kita lakukan rapid test hasilnya rata-rata dari sampel jajanan yang kita periksa, terutama cilok dan krupuk pedas mengandung boraks dan Rhodamin-B atau zat pewarna tekstil,” ungkapnya, Jumat (29/5).

Disinggung langkah selanjutnya, menurut Wahyu, persoalan itu tidak hanya menjadi pekerjaan rumah Dinas Kesehatan atau pihak sekolah semata. Harus ada kerjasama lintas sektor, terutama edukasi kepada para siswa itu sendiri.

“Idealnya sekolah harus menyediakan kantin sehat. Disisi lain, si penjual sendiri juga tidak bisa disalahkan lantaran mencari rejeki dan malah dagangannya diserbu para siswa itu sendiri. Sehingga yang perlu kita edukasi adalah para siswa,” ujarnya.

Terpisah, menanggapi itu, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Klaten, Pantoro, tidak mengelak adanya oknum penjual jajanan di sekolah-sekolah yang menggunakan bahan kandungan berbahaya.

“Kami akan menghimbau sekolah-sekolah agar berhati-hati untuk memberikan izin kepada pedagang. Langkah ini untuk mencegah anak-anak mengkonsumsi jajanan yang mengandung zat berbahaya. Pasalnya, dampak penyakit akan muncul setelah lima hingga 15 tahun dari waktu konsumsi,” katanya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge