0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Disperindagkop : Jangan Terima Beras Mengkilap

Kepala Disperindagkop Klaten, Sugeng Haryanto saat inspeksi mendadak di Pasar Induk Kota Klaten (timlo.net/aditya wijaya)

Klaten — Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM (Disperindagkop) Klaten mengklaim wilayah Klaten steril dari peredaran beras plastik.

“Sejak Selasa (12/5) lalu, kami telah membentuk tim untuk mengawasi peredaran beras plastik di pasar tradisional maupun pedagang beras mulai dari wilayah Prambanan hingga Delanggu. Dari pemantauan itu, Klaten hingga saat ini bersih dari peredaran beras sintetis,” tandas Kepala Disperindagkop Klaten, Sugeng Haryanto saat inspeksi mendadak di Pasar Induk Kota Klaten, Senin (25/5).

Kendati terus melakukan pemantauan, pihaknya juga mengedarkan surat edaran dan pembinaan untuk mengawasi keberadaan beras sintetis tersebut. Hal itu bertujuan agar para pedagang beras tidak menjualnya dan jangan sampai Klaten kemasukan beras sintetis.

“Kami mengimbau pedagang beras untuk hati-hati supaya tidak menerima beras titipan yang dicurigai beras plastik,” kata dia.

Menurutnya, ciri-ciri beras plastik itu butirannya mengkilap. Bila pedagang beras menemukan pemasok yang menawari beras seperti itu, agar jangan menerima serta menjualnya kembali. Lebih baik dilapokan kepada Disperindagkop Klaten.

Sementara sejumlah pedagang tidak terlalu ambil pusing santernya isu peredaran beras plastik ini.

“Biasa saja pak. Karena dagangan beras ini saya ambil langsung dari selepan atau petani. Itu pun kita sudah menjalin kerjasamanya belasan tahun lamanya,” ujar Sumiyati (70), pedagang sembako di Pasar Induk Kota Klaten, Senin (25/5).

Meski demikian, pihaknya menyebut kadang-kadang ada pelanggan yang sempat mendapatkan pertanyaan soal beras plastik ini. Namun hal itu tidak mempengaruhi jumlah penjualan berasnya.

Senada disampaikan pedagang lainnya, Endang Wahyuni (48). Menurut dia, pemasok beras plastik pasti berpikir dua kali untuk memasukkannya ke Klaten. Sebab wilayah tersebut terkenal sebagai gudangnya beras.

“Kalau Klaten malah kebalikannya, justru kita yang menyetorkan beras ke daerah lain.  Jadi kecil kemungkinan daerah kita kemasukan beras,” jelasnya.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge