0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kisah Asmujiono

Sepulang Dari Everest Sempat Dicap Gila

Asmujiono (dok.merdeka.com)

Timlo.net – Cerita menarik disampaikan Asmujiono, pendaki pertama di Asia Tenggara yang berhasil menaklukkan puncak Everest. Rekor itu ia catatkan bersama 15 rekan lainnya pada 1997 lalu.

Sepulang dari ekspedisi ke puncak Everest 1997, Asmujiono mengalami sakit yang secara medis tidak diketahui. Sebagian sarafnya mati, saat ditanya wartawan tentang keberhasilannya, dia kesulitan untuk memberikan jawaban dan respon.

“Bahkan banyak orang yang mengabarkan kalau saya sudah sakit jiwa dan harus menjalani karantina. Saya sakit sekitar 2 tahun, disangka gila, karena itu saya disembunyikan,” kata Asmujiono, kemarin.

Asmujiono berhasil mengibarkan Merah Putih di Puncak Everest pada 26 April 1997 pukul 15.30 waktu setempat. Dia tercatat sebagai pendaki ke-662 yang menapaki kaki di Puncak Everest, disusul oleh Misirin di posisi 663.

Tetapi bagi orang Asia Tenggara, keduanya menjadi orang pertama dan kedua. Misi itu ditempuh selama enam bulan mulai Desember 1996 hingga Mei 1997.

Perubahan yang drastis dari suhu ekstrem kemudian kembali ke suhu tropis diduga menjadi penyebab sakitnya. Selama dua tahun, Asmujiono harus menjalani pengobatan, di antaranya di Sumur Tujuh Banten.

“Seharusnya tidak langsung dibawa ke Indonesia, minimal satu tahun di Nepal menjalani penyesuaian. Harusnya disuruh jalan-jalan dulu seperti para bule-bule di sana,” katanya.

Asmujiono begitu selesai dengan misinya langsung dijemput oleh pesawat khusus. Saat itu menjadi ikon kebanggaan karena sudah mencatat rekor.

“Saya ditanya wartawan diam saja, saraf belum bisa menerima. Ibarat besi panas langsung dimasukkan ke dalam es, langsung bengkok,” katanya.

Sempat tergiang dalam ingatan Asmujiono, kalau kelak pulang dari menjalankan misi akan bercerita kepada teman-teman sambil bisa berbangga.

“Saya yang pelakunya saat itu tidak punya kesempatan, ke mana-mana saya tidak diajak. Bahkan tidak sedikit yang meragukan. Benarkah saya sampai ke puncak Everest,” katanya.

Pria kelahiran Malang, 1 September 1971 itu kini tinggal di Jalan Melati Desa Kebonsari, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Sejak saat itu, hari-harinya diisi dengan berbagai aktivitas untuk pemulihan.

“Termasuk dari kantor saya sendiri ada yang meragukan. Kembali dari sana prestasi hilang semua, saya harus membangun prestasi lagi,” kata pria berbadan tegap yang saat itu mengenakan baret merah itu.

[hhw]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge