0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Solo Blues Festival 2015 Hadirkan Sederet Band Lokal

Duel gitar Rama Satria dan Ginda Bestari dalam ajang Solo Blues Festival 2014 (dok.timlo.net/heru murdhani)

Solo – Perhelatan akbar Solo Blues Festival (SBF) akan kembali menyapa pecinta musik blues di halaman Bentang Vastenburg, Sabtu (23/5) besok. Mengusung tagline Bengawan SoBlues, perhelatan tahun ke tiga ini menjanjikan gelaran ini sebagai wadah kreativitas sekaligus menancapkan kembali eksistensi genre musik ini di Tanah Air.

“Kota Solo merupakan kota dengan apresiasi yang tinggi terhadap genre musik apapun. Salah satunya adalah blues. Berkaca dari tahun-tahun kemarin kami memberanikan diri menggelar Solo Blues Festival 2015 sebagai media bertukar pengalaman dan komunikasi bagi generasi muda pelaku dan penggemar musik blues,” ungkap Ketua Pelaksana SBF 2015, Ari Headbang.

Bicara soal blues, mau tak mau harus membicarakan sejarah perkembangan musik asal Negeri Paman Sam ini. Di Indonesia, genre ini bukanlah hal baru, hanya saja memang kurang penikmat dan pelakunya. Tapi dikatakan Ari,
perkembangan genre ini tidak sejalan dengan musisi-musisi yang mencampur musik blues dengan genre lain.

“Blues itu bisa masuk ke genre musik apa saja, misalnya ada musik dengan genre rock tetapi menggunakan ketukan-ketukan blues. Atau bisa juga musik pop dengan petikan gitar ala blues. Jadi nanti di SBF kali ini ada blues yang murni atau pure blues namun juga genre lain, misal blues rock, dan lainnya” terangnya.

SBF 2015 akan diikuti beberapa band lokal Kota Bengawan, seperti Jack Wains, Soloensis, Blues Brothers Solo dan Solo Blues Rock. Sedang untuk headliner SBF 2015 akan hadir musisi asli Solo yang sekarang hijrah ke Jakarta, yakni DD Crow The Guitar Circus.

Rencananya komunitas-komunitas blues dari kota-kota lain seperti Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Purwokerto, Bandung, juga akan turut hadir dalam acara ini.

Disinggung mengenai tagline Bengawan SoBlues, Ari menuturkan bahwa dirinya memang sengaja mengambil folosofi sungai terpanjang di Pulau Jawa itu sebagai etos dan semangat penggiat musik blues. Dia mengatakan, blues
seperti aliran Bengawan Solo yang selalu mengalir, hidup dan menghidupi, serta membawa manfaat bagi masyarakat Solo dan Indonesia.

“Musik blues itu seperti kehidupan, yang terus mengalir dan berkembang serta membawa manfaat bagi musik di Indonesia,” katanya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge