0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Bakat: Sudah Diprediksi Bakal Ada yang Jatuh ke Kawah

Bakat Setiawan alias Lahar (dok.timlo.net/nanin)

Boyolali – Tim SAR gabungan telah berhasil mengevakuasi tubuh Eri Susanto, pendaki yang jatuh ke kawah Gunung Merapi. Dari seluruh anggota tim evakuasi, ada satu nama yang menjadi sorotan media maupun rekan-rekan sesama relawan. Yakni Bakat Setiawan alias Lahar. Pria 29 tahun ini adalah orang pertama yang menyentuh korban di kedalaman 200 meter kawah Merapi.

Ditemui di kantor Resot Selo Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM), Bakat menceritakan keberaniannya itu. Sebelum turun ke kawah, dia mengaku sudah mempersiapkan mentalnya matang-matang. Bahkan resiko terburuk sudah terpikirkan di benaknya. Saat turun ke kawah, dia hanya berbekal air mineral 600 ml, coklat, dan alat pengaman diri.

”Bahaya yang paling mengancam saat masuk ke kawah gunung aktif adalah gas sulfatara,” ungkapnya.

Tugas utamanya masuk ke kawah Merapi, untuk menyentuh ke lokasi korban ke dalaman 200 meter. Saat itu, dirinya dibantu empat orang dari SAR DIY. Yakni Endro Sambodo, Andry Suzanto, Rahmad Diyono, Ridho, dan Mukhsin. Meraka ikut turut menuruni tebing kawah yang penuh bebatuan rapuh itu.

“Begitu korban bisa tersentuh, langsung kita ikat dan angkat di titik paling aman, sekitar 50 meter dari dasar Kawah. Karena perhitungan kita tidak mungkin akan turun ke bawah lagi,” lanjut warga Kembang Kuning, Cepogo ini.

Saat menuruni kawah Merapi, Bakat memilih tidak menggunakan baju dan sepatu tahan panas. Sebab justru akan memberatkan langkahnya saat menuruni tebing kawah. Padahal saat itu, suhu Merapi terpantau 140 derajat celcius. Meski demikian, dirinya tetap memakai full masker.

“Untuk turun ke kawah, kita tunggu matahari tegak lurus dengan kawah. Menunggu gas sulfatara terbakar matahari,” jelasnya.

Sementara tabung oksigen yang dibawa seberat 10 kilogram, baru digunakan saat kondisi darurat. Tabung baru digunakan saat kabut mulai turun, karena bisa membuat sesak napas. Selama menuruni kawah, dirinya dipandu oleh tim di thermal camp. Jalur yang dibuat harus sesuai arahan thermal camp, karena harus menghindari hembusan gas sulfatara.

“Kemana kaki berpijak dan di titik mana harus membuat ancor, jalur harus sesuai thermal camp, fungsinya untuk menghindari hembusan gas sulfatara,” jelas relawan yang sudah kali turun ke kawah Merapi.

Diceritakan juga, saat pertama kali mendekat ke tubuh korban, fisik korban masih utuh dan bagus. Posisi korban tengkurap pada jarak 50 meter dari kawah 1957. Selain itu, pakaian masih utuh dan dompet masih ada.

Disisi lain, terkait dengan musibah yang menimpa Eri Yunanto, dirinya sudah pernah memprediksi hal itu bakal terjadi. Sebab, selama ini ada himbauan untuk tidak mendaki ke puncak, namun ternyata banyak pendaki yang nekat. Padahal selama ini sudah dilakukan pemetaan untuk mengantisipasi hal itu.

“Ini hikmah terbesar, larangan jangan mendaki ke puncak ternyata benar,” tandasnya.

Sementara itu, tim rescue yang juga turun ke kawah, Endro, mengaku turun ke kawah Merapi merupakan pengalaman pertamanya. Sebelumnya dirinya tidak diplot masuk ke kawah. Namun lantaran Bakat kesulitan saat mengevakuasi korban, dirinya baru turun.

“Ini pengalaman luar biasa, evakuasi tersulit, dan berisiko, saya tidak ingin mengulanginya lagi,” aku warga Jl Imogiri Timur, Bantul, Yogyakarta ini.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge