0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Mbah Tumirah, Sejak Jaman Penjajahan Jepang Sudah Jarang Makan

merdeka.com
Mbah Tumirah (merdeka.com)

Timlo.net – Mbah Tumirah, penjual kacang kering di parkiran selatan stasiun Tugu Yogyakarta mengaku sudah hidup susah sejak zaman penjajahan Jepang. Nenek berusia 109 tahun tersebut mengatakan saat penjajahan Jepang dia jarang makan karena takut keluar, karena banyak tentara Jepang kerap berpatroli di sekitaran rumahnya di Sosrowijayan, Gedongtengen, Kota Yogyakarta.

“Zaman penjajah Jepang, sama makan sehari bisa untuk dua atau tiga hari. Karena takut keluar, enggak punya makanan di rumah. Takut kalau diculik Jepang,” katanya, Sabtu (16/5).

Bahkan karena begitu takut dengan Jepang, dia dan suaminya membuat lubang persembunyian di bawah rumahnya. Untuk menyembunyikan lubang tersebut, dia dan suaminya merobohkan rumahnya sehingga Jepang menyangka penghuni rumah sudah pergi.

“Saat itu anak saya masih kecil, itu pas Jepang datang, suami saya ya meninggal pas zaman Jepang,” ujar nenek yang mengaku memiliki 7 cucu dan 22 cicit ini.

Saat suami sudah tiada dia bekerja sebagai buruh cuci pakaian dan juga buruh tani di ladang. Masa itu disebut sebagai masa yang begitu sulit. Kondisi mulai berubah ketika Indonesia merdeka dan Yogyakarta bergabung dengan Indonesia.

“Saya dari dulu tinggal ya di situ (Sosrowijayan) jadi bisa merasakan bagaimana perubahannya dari zaman Jepang dan zaman Kemerdekaan,” ungkapnya.

Jika membandingkan zaman sekarang dengan zaman dulu, dia mengaku hidup lebih enak pada zaman dulu, sebab jika tidak punya uang untuk makan dia masih bisa makan dengan hasil kebun.

“Sekarang itu duit Rp 100 enggak bisa buat apa-apa, kalau dulu satu sen saja sudah bisa makan kenyang. Sekarang seribu saja makan enggak kenyang,” tandasnya.

[cob]

Sumber : Merdeka.com

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge