0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

WNI Korban Trafficking Berhasil Melarikan Diri

ilustrasi (dok.merdeka.com)

Timlo.net – Sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI) korban perdagangan manusia di wilayah Tiongkok berhasil melarikan diri. Mereka minta perlindungan di Kedutaan Besar RI di Beijing.

“Saya berhasil kabur dengan dibantu rekan sesama pembantu rumah tangga yang asli orang Tiongkok,” ungkap NH, wanita asal Kampung Sempur, Pandeglang, Banten, Kamis (14/5).

NH dan RD asal Kampung Cibiutarok, Pandeglang, Banten, dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga di Fuzhou di wilayah Tiongkok Tenggara, sejak tiga tahun silam.

“Kami dijanjikan setelah tiga tahun akan dipulangkan, namun setelah tiga tahun mereka menahan kami tetap bekerja sebagai PRT,” tutur RD.

Keduanya tiba di Tiongkok, setelah dibeli dari seorang agen di Tiongkok sebesar 15 ribu Yuan, dari agen di Pandeglang.

“Gaji kami dipotong, untuk agen, dan tidak dibayarkan selama tujuh bulan untuk mengganti uang majikan yang membelinya dari agen. Dari janji 4.000 Yuan, saya hanya terima 2.500 Yuan,” ungkap NH.

Selain tidak diperkenankan berinteraksi dengan orang lain, paspor mereka pun ditahan.

“Sehingga kami juga sulit untuk kabur di awal-awal kerja di sini, padahal sudah tidak tahan. Kami belum pernah kerja di luar negeri,” katanya.

Kini NH dan RD ditampung di rumah tahanan Kantor Keamanan Publik Beijing setelah sebelumnya ditampung di KBRI dan dibuatkan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP). Karena keduanya berada di Tiongkok daratan secara ilegal, selama lebih dari satu bulan, maka mereka diwajibkan untuk ditahan di Kantor Keamanan Publik.

Duta Besar RI untuk Tiongkok merangkap Mongolia, Soegeng Rahardjo mengungkapkan, pihaknya telah memulangkan 48 WNI yang menjadi korban perdagangan manusia, sejak Januari hingga April 2015.

“Mereka berdatangan, satu, dua hingga lima orang sekaligus, dan mengungkapkan masih ada sekitar sepuluh hingga 20 orang rekan mereka yang belum bisa meloloskan diri. Jadi, mungkin jumlahnya akan terus bertambah,” tuturnnya.

Dubes Soegeng mengungkapkan ada WNI yang meloloskan diri dan langsung ke KBRI, ada juga yang diserahkan agen secara diam-diam ke KBRI jika mereka sudah tidak dibutuhkan lagi.

“KBRI senantiasa menyampaikan nota diplomatik kepada Pemerintah Tiongkok untuk mengatasi masalah ini, karena kasus ini sudah menjadi kerja sindikat yang melibatkan agen di Indonesia dan Tiongkok. Mereka bekerja sama. Beberapa agen Tiongkok sudah ada yang ditangkap aparat, namun masih banyak yang belum,” ungkapnya.

Selain meminta nota diplomatik kepada Pemerintah Tiongkok, pihaknya juga meminta aparat hukum di Tanah Air untuk sigap menanggapi kasus tersebut.

KBRI telah menyampaikan imbauan berulang-ulang melalui laman Kementerian Luar Negeri, instansi terkait, bahkan Bareskrim Polri agar warga Indonesia berhati-hati jika ada tawaran bekerja di luar negeri, agar mereka tidak terjebak sebagai korban perdagangan manusia.

“Khusus di Tiongkok Daratan, pemerintah setempat tidak mengizinkan adanya buruh migran negara lain untuk bekerja di wilayahnya. Jika ada yang menawari kerja di Tiongkok, sudah pasti itu ilegal,” kata Dubes Soegeng.

[did]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge