0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

TimloMagz

Perajin Payung Kertas Juwiring, Minim Regenerasi

Slamet Harjono saat membuat hasil kerajinannya (Timlo.net - Aditya)

Timlo.net – Sebuah ranjang terbuat dari bambu dengan tumpukan payung berwarna pink dan belasan kaleng cat berwarna-warni berserakan di teras rumah Slamet Harjono. Dari gang sempit di Dusun Gebungan, Kwarasan, Kecamatan Juwiring, Klaten, inilah salah satu “bengkel seni” yang pernah berada di puncak kejayaan perajin payung di Juwiring.

“Sayang sekali, sekitar sepuluh menit yang lalu istri saya baru saja mengantar pesanan payung ke Jogja. Yang tersisa hanya payung polos untuk kiriman berikutnya,” ujar Slamet Harjono, membuka percakapan.

Harjono, sapaan dia, merupakan generasi ketiga yang tinggal di kampung penghasil payung. Sorot matanya nampak berat, seperti lelah atau kurang tidur, tapi masih menyisakan api semangat mengarungi samudera kehidupan.

Selain tinggal berdua dengan istrinya, hidup Harjono sehari-hari terdiri dari sulaman benang yang beradu dengan lidi bambu dan sabetan kuas yang melukis selembar kain atau kertas.

Tak banyak ingatan yang tersisa soal sejarah kampungnya yang tersohor dengan ikon payung itu. Dibenaknya, dia hanya teringat ketika pertama kali belajar membuat payung sekitar tahun 1960-an, setelah tamat SD.

“Sebelum Indonesia Merdeka, kakek saya sudah bikin payung yang diteruskan ke bapak, kemudian sampai saya. Kalau sejarah payung di Juwiring, saya tidak tahu persis. Tapi perajin payung disini yang sepuh tinggal saya, sedang perajin lainnya itu seangkatan anak saya,” kata kakek bercucu satu ini.

Sekitar tahun 1970-an, tiap kali Keraton Surakarta menggelar upacara Suronan serta Muludan, selalu memesan payung dari Juwiring. Sedangkan untuk keraton Jogjakarta biasanya digunakan para abdi dalem untuk labuhan di Laut Kidul.

Selain itu, payung hasil karya para perajin Juwiring ini juga pernah dipesan Pemerintah untuk dikirim ke negara Jepang dan Kamboja.

“Kalau saya sih paling banter ke Jakarta. Orang jakarta itu pesan ke saya gara-gara pesanan payungnya di Tasikmalaya kurang cepat selesai. Lewat karyawanya yang datang ke rumah dan memberikan panjer atau DP (uang muka-red), dia pesan payung 150 hingga 200 biji untuk dijual ke Bali. Bersyukurnya, meski saya tidak pernah bertemu, dia pesan payung hingga bertahun-tahun lamanya. Padahal kalau orang Jakarta itu berbohong, bisa saja setelah payung saya paketkan dia kabur dan tidak membayar sisanya,” ceritanya.

Untuk proses pembuatan, Harjono menjelaskan, payung berbahan kertas maupun kain itu menggunakan bambu sebagai rangkanya. Rangka bambu atau lidi dibuat oleh orang lain.

Setelah rangka jadi, ia membungkusnya dengan kertas atau kain. Kemudian menyulam dan mengikatnya agar kuat. Berikutnya, kertas itu Harjono lukis dengan cat. Selesai dilukis dengan corak bunga, baru kemudian di jemur di bawah panas matahari di teras rumahnya.

“Untuk coraknya tergantung si pemesan. Biasanya si pemesan memberikan desain, lalu saya tinggal lihat gambarnya dan menyesuaikan motif bunganya. Tapi ada juga yang pesan polosan,” jelasnya.

Dari hasil karya tangannya, Harjono membuat payung tradisional dengan bahan dari kain dan kertas. Pembuatannya pun hanya berdasarkan pesanan, bukan untuk dijual memenuhi pasaran.

Pasalnya seiring laju jaman, fungsi payung buatannya bukan sebagai pelindung hujan. Namun menjadi hiasan dan upacara adat, seperti Payung Keraton, Payung Temanten, Payung Taru, Payung Pantai, Payung Kebun, dan sebagainya. Hal ini juga berlaku bagi belasan perajin payung yang tersisa di Juwiring.

“Ini saya sedang mengerjakan payung-payung pesanan dari Sriwedari, Solo, lalu toko langganan di Kampung Yudanegaran Jogja,” ujarnya.

“Kalau pesanan yang jaraknya dekat cukup diantarkan istri saya. Kalau dulu saat masih bugar, kami berdua sendiri yang memasarkan,” tambah Harjono.

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge