0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Demam Akik, Penggemar Fire Opal Mulai Menurun

dok.timlo.net/tarmuji
Batu akik varian baru bermunculan (dok.timlo.net/tarmuji)

Wonogiri — Penggemar batu akik jenis Fire Opal (FO) asal Bukit Manggal, Kecamatan Tirtomoyo, Wonopgiri kini mulai menurun, khususnya masyarakat di tingkat bawah. Namun FO tetap menjadi buruan para kolektor kelas menengah ke atas.

Akan tetapi, untuk jenis batu akik varian biasa, sekelas Calcedon, Junjung Drajat, Kecubung, Red Baron, batu fosil dan batu motif masih saja menunjukkan eksistensinya di pasaran lokal Wonogiri. Selain itu, pangsa pasar batu akik di Wonogiri juga dipengaruhi dengan munculnya berbagai jenis batu akik varian baru.

“Yang jelas masyarakat kelas bawah sudah tak mampu beli. Bagaimana tidak, wong regane digas wae (harganya makin mahal),” ujar Faried, kolektor akik asal Kecamatan Baturetno, Kamis (30/4).

Menurut Faried, saking melambungnya harga FO di pasaran, masyarakat kelas bawah lebih memilih mengoleksi batu akik yang harganya lebih terjangkau. Akik FO jenis bimoli dengan ukuran dua centimeter dengan ketebalan tiga dim, dipatok seharga Rp 500 ribu. Sedang akik jenis Calcedon hanya berkisar Rp 100 ribu hingga Rp 300 ribu.

“Tapi tetap saja penggemar FO masih ada, tapi hanya kalangan tertentu saja, sekelas pejabat atau kalangan pengusaha,” katanya.

Dihubungi terpisah, Andri, pengrajin batu akik di Kecamatan Baturetno mengatakan, dengan munculnya batu akik varian baru membawa dampak positif. Pasalnya orderan yang ia terima pun semakin deras mengalir.

“Membuat batu akik jenis biasa selain FO lebih mudah, resikonya lebih tinggi, karena kekerasan FO yang hanya 3-4 skala Mohs riskan pecah,” katanya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge