0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Bonsai, Dari Hobi Menjadi Industri

timlo.net/putra kurniawan
Joko Winarso diantara bonsai koleksinya (timlo.net/putra kurniawan)

Sukoharjo — Berangkat dari sekedar hobi mengoleksi bonsai dari alam, seorang guru di Sukoharjo kini menjadi petani bonsai terbesar se-Jawa Tengah. Hasil budidaya Joko Winarso inipun diminati dari luar jawa dan mancanegara.

Kisah sukses Joko Winarso berawal ketika dirinya masih berusia remaja. Saat itu, Joko berbeda dengan teman seusianya. Saat bermain ke sungai, dirinya memilih berburu batang pohon yang bisa dijadikan bonsai daripada berenang atau mancing.

“Ketika teman-teman mengajak saya mancing, saya juga ikut, tapi sampai di pinggir sungai saya mencari batang pohon yang bisa dijadikan bonsai, itu sekitar tahun 1987, dan usia saya masih remaja,” kata Joko Winarso kepada timlo.net, Senin (27/4).

Setelah memiliki banyak koleksi bonsai, pada tahun 1993 Joko mulai belajar tentang seni bonsai dari buku, meskipun darah seninya sudah mengalir sejak masih kecil. Kemampuanya terus terasah dan akhirnya berhsil mengembangkan hobinya ini menjadi sebuah lahan bisnis.

Pada tahun 1995, guru MAN Sukoharjo ini berani mencoba membudidyakan bonsai dan menjualnya ke berbagai daerah. Dan hasilnya cukup menjanjikan, sehingga membuat keberanian Joko Winarso semakin tinggi untuk lebih seirus menjalankan bisnis barunya ini.

“Waktu itu memang saya belajar secara otodidak dan dari buku, selain itu juga banyak melihat kontes dan pameran bonsai, dan Alhamdulillah saya merasa cukup mampu dan akhirnya memberanikan diri untuk memulai, hasilnya seperti sekarang ini,” ujar Joko.

Dari awal budidaya hingga sekarang, Joko Winarso sudah memiliki ribuan bonsai di empat lokasi kebun milik pribadinya. Dengan luas total sekitar lima hektar. Setiap hari untuk merawat bonsai berbagai jenis dan ukuran ini, Joko mepekerjakan sedikitnya enam orang tenaga ahli dengan gaji di atas upah minimum kabupaten (UMK).

“Saya sudah bekerja di sini sekitar empat tahun, awalnya saya hanya senang bercocok tanam, selain belajar sendiri ilmu tentang bonsai saya dapat juga dari pak Joko, dan Alhamdulillah kerja di sini gajinya juga lumayan, sehari Rp 150 ribu,” ungkap salah satu karyawan, Nur Cahyo.

Untuk bisa menggaji karyawannya dengan layak, Joko Winarso terus mengembangkan budidaya bonsainya dengan meningkatkan kwalitas pohon mini ini. Diantaranya dengan mencari bahan baku berkualitas dan harga jual yang bersaing.

Kebun budidaya bonsai  milik Joko Winarso di Jalan Sedap Malam, Sodakan Lor, Desa Gumpang, Kecamatan Kartasura, Sukoharjo ini  diklaim menjadi pusat budidaya bonsai terbesar se Jawa Tengah. Bonsai yang dibudidayakan rata-rata bergaya natural. Sehingga kesan campur tangan manusai dalam bonsai tidak terlalu banyak.

Urusan harga, Joko mematok paling tinggi kisaran Rp 35 Juta, dan yang paing murah gratis.

“Gratis karena ada yang datang ingin punya bonsai tapi ndak punya uang ya saya kasih, tapi ya sebentuk-bentuknya,” tegas Joko.

Pada awal mendirikan tempat budidaya bonsai, pria kelahiran 51 tahun yang lalu ini menargetkan pemasukan Rp 20 juta per bulan. Namun seiring berjalanya waktu, perilaku pembeli bonsai tidak bisa ditebak. Kadang sebulan tidak laku, ada juga dalam sepekan bisa terjual Rp 160 juta.

Akhirnya dia tidak menargetkan harus dapat berapa. Tapi dirinya memiliki prinsip, sesuatu yang dikerjakan dengan serius dan tak kenal menyerah pasti akan menghasilkan. Dan prinsip ini dia pegang teguh hingga sekarang. Menurut pengakuannya, sejauh ini pesanan cukup stabil, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge