0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Hakim ‘Duo Bali Nine’ Minta Suap?

dok.merdeka.com
dua terpidana mati duo sindikat narkoba 'Bali Nine', Andrew Chan dan Myuran Sukumaran (dok.merdeka.com)

Timlo.net – Hakim yang menyidangkan dua terpidana mati ‘Duo Bali Nine’ dituduh meminta suap sebesar Rp 1 Milair kepada terdakwa. Uang itu diminta hakim untuk meringankan hukuman keduanya.

Pengacara bernama Muhammad Rifan yang bermukim di Bali itu menyatakan kesepakatan itu akhirnya batal lantaran hakim memberitahu dia, pejabat pemerintah di Jakarta meminta Dua Bali Nine itu tetap dihukum mati.

Para hakim itu, kata Rifan, kemudian meminta uang suap lebih besar untuk meringankan hukuman Duo Bali Nine. Namun Rifan mengatakan dia tidak memiliki uang sebanyak itu.

Tuduhan dari Rifan ini diungkap oleh kantor berita Fairfax Media dan mantan jurnalis SBS peraih penghargaan Mark Davis dan dilansir koran the Sydney Morning Herald, Senin (27/4).

Rifan menuturkan dia sudah memberitahukan hal ini ke publik sambil menunggu Komisi Yudisial menyelidiki kasus yang melibatkan hakim ini.

Pada kunjungannya 2 Februari lalu Rifan mengatakan kepada wartawan ada campur tangan pihak lain dalam kasus ini.

“Ini bisa menjelekkan nama saya, tapi demi mereka (Bali Nine) saya rela,” kata dia.

Namun Rifan hingga saat ini enggan menjelaskan lebih jauh soal kasus penyuapan ini.

Dalam wawancara dengan Davis kemarin, Rifan menceritakan bagaimana dia bertemu dengan para hakim dan kemudian ada campur tangan dari Jakarta yang menetapkan Duo Bali Nine Andrew Chan dan Myuran SUkumaran tetap harus dieksekusi.

“Kami bertemu beberapa kali dengan para hakim. Kami membahas tentang berapa lama hukuman penjara bagi Duo Bali Nine. Meski hal ini dilarang tapi kenyataannya begitu. Ini biasa.”

Saat negosiasi, kata Rifan, hakim mengatakan akan menjatuhi hukuman penjara 20 tahun.

“Kami tak bisa memenuhi permintaan mereka ketika mereka menawarkan akan meringankan hukuman menjadi 15 tahun penjara.”

“Mereka minta lebih dari Rp 1 miliar untuk hukuman kurang dari 20 tahun penjara, sekitar 15, 16, atau 17 tahun. Kami lalu sepakat.”

Namun sepekan atau dua pekan sebelum vonis dijatuhkan, ada perintah dari Kantor Kejaksaan Agung dan Mahkamah Agung tentang hukuman mati.

Sejak muncul perintah itu, kata Rifan, para hakim meminta uang suap lebih besar.

“Saya katakan kepada mereka berapa banyak uang yang kami punya tapi mereka bilang kasus ini terlalu berisiko dan uang Rp 1 Miliar masih kurang.”

“Saya kira mereka bercanda dan akan kembali pada hukuman 20 tahun penjara jika uang suap itu tidak lebih dari Rp 1 miliar.”

Tapi pada 14 Februari 2006 Chan dan Sukumaran dijatuhi vonis hukuman mati.

Salah satu hakim dalam kasus ini, Wayan Yasa Abadi, membantah ada penyuapan yang terjadi pada Februari itu. Dia juga menyangkal ada campur tangan dari Jakarta.

“Saya bisa memastikan tidak ada itu. Kami melindungi diri dari publik. Itu murni keputusan hakim,” kata dia kepada Fairfax Media.

[pan]

Sumber: merdeka.com

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge