0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Keluarga Mendiang Bidan Desa curigai Motif Lain

dok.merdeka.com
ilustrasi gantung diri (dok.merdeka.com)

Timlo.net – Kematian seorang bidan desa Kecamatan Kelayang, kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau, bernama Juli Aisyah, masih menyisakan misteri. Keluarga bidan muda tersebut merasa curiga dan menemukan beberapa kejanggalan.

Paman korban bernama Ardin Harahap menuturkan, Aisyah dikuliahkan orangtua, Hasanuddin Munthe dan Lena br Ritonga ke Akademi Kebidanan di Batangkuis, Medan, Sumatera Utara, dengan harapan dapat membantu ekonomi keluarganya.

Setelah tamat kuliah, Aisyah menjadi tenaga kerja sukarela (TKS) di Puskesmas Polak Pisang, sekitar 5 KM dari kediaman di Dusun Selanjut jalur IV Desa Simpang Kota Medan, Kelayang, kabupaten Inhu.

Sebagai tenaga sukarela, tentunya tidak memiliki penghasilan yang cukup untuk keluarganya, Aisyah pun membuka praktik bidan di kediamannya, karena dikenal ramah dan baik, tak sedikit masyarakat yang datang menjadi pasien.

“Isyah (sapaan sehari-hari Juli Aisyah) bersifat periang, santun dan ramah terhadap siapa pun, selain itu Isyah juga rajin salat dan sering ikut dalam pengajian. Kami masih tak menyangka dia melakukan itu (bunuh diri),” ujar Ardin kepada wartawan, Selasa (21/4).

Tak ayal, timbul rasa curiga ketika Aisyah ditemukan meninggal dunia dengan kondisi tergantung, dengan seutas tali nilon di pintu kamar praktik yang ketinggiannya pun tergolong rendah.

Rasa kecurigaan itu timbul ketika mayat Aisyah terikat tali nilon tidak begitu tergantung, karena ujung kaki kanannya menyentuh lantai sedangkan kaki kirinya masih terlipat di atas kursi, seolah olah posisi Isyah seperti gantung diri.

Kecurigaan yang lain, Ketika keluarga korban mendatangi kedua orangtua pacar Aisyah, Riyan di jalur VI Selanjut, untuk meminta pertanggungjawaban hubungan asmara mereka selama ini yang mengakibatkan Isyah hamil 10 minggu.

Bahkan hingga dua kali berbicara secara adat kekeluargaan, Riyan dan keluarga diduga tidak berkenan menikahkan anak tunggalnya Riyan dengan gadis yang tergolong berekonomi lemah itu.

Ironisnya lagi, ketika mendapat kabar bahwa Aisyah meninggal dunia dalam kondisi tergantung, seketika itu pula Riyan dan orangtuanya Warso dan istrinya tidak terlihat di rumah, sejumlah tetangganya menduga satu keluarga tersebut kabur dari kampung tersebut.

Hal itu diperkuat ketika wartawan mengunjungi kediaman Riyan di jalur VI, Selanjut, usai menyaksikan pemakaman Aisyah, kondisi rumah Warso tertutup dan dikunci, sementara para tetangga Warso saat ditanyai tidak mengetahui ke mana perginya keluarga Warso, istri dan anaknya Riyan.

“Yang menjadi pertanyaan kami sekeluarga, kenapa Riyan dan kedua orangtuanya Warso dan istrinya kabur dari kampung ini,” ujar Ardin.

Menurut Ardin, yang didampingi orangtua korban Hasanuddin Munthe, mengatakan, sebelum ditemukan tewas tergantung, Aisyah yang hamil sempat melakukan upaya kekeluargaan dengan pihak pacar untuk menyelesaikan permasalahan.

“Namun keluarga Riyan sepertinya tidak berkenan, dan ini menjadikan Aisyah seperti ini,” ucap Ardin.

Sementara itu, Kapolsek Kelayang, AKP Zaidir mengatakan, kematian Juli Aisyah murni karena bunuh diri dengan cara menggantung diri di pintu kamar praktiknya, dan itu sesuai dengan hasil visum et revertum dokter Puskesmas Polak Pisang.

“Meski begitu, kami masih terus melakukan penyelidikan terhadap kematian Juli Aisyah, namun hingga saat ini belum ada yang tergolong mencurigakan,” kata Kapolsek.

Dokter Puskesmas Polak Pisang, dr Kristian dikonfirmasi mengatakan, dari hasil visum yang dilakukannya, Juli Aisyah sedang mengandung anak sekitar 10 minggu. Kematian Aisyah diduga akibat bunuh diri dengan cara menggantungkan lehernya .

Rekan sekerja korban, Imelda yang juga sebagai bidan di Puskesmas Polak Pisang saat melayat korban mengatakan, selama Isyah bekerja di Puskesmas Polak Pisang tidak pernah menunjukkan etika yang kurang baik.

“Teman-teman di Puskesmas sangat senang dengan Isyah, karena dia tergolong orang yang santun, baik dan ramah, suka membantu sesama teman jika ada kesulitan,” ujar Imelda.

[cob]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge