0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Jadi Relawan Adalah Pilihan

dok.merdeka.com
Widyaningsih Budihartanti (dok.merdeka.com)

Timlo.net – Aktif sebagai seorang relawan menjadi pilihan perempuan muda bernama Widyaningsih Budihartanti ini. Wanita kelahiran Serang, 13 September 1988 ini sejak tahun 2012 sudah bergabung untuk mengabdikan diri menjadi seorang relawan kemanusiaan.

Ia tertarik dalam kegiatan sosial bermula saat melihat adiknya yang lebih dahulu yang malang melintang di Yayasan Bhumi Salaras. Wiwit, sapaan dara manis ini membantu sesama warga Banten yang tak mampu dan menjadi korban bencana alam.

“Pastinya senang bisa membantu sesama, bantu advokasi pasien kurang mampu yang ingin berobat, hingga membantu korban bencana alam, kaya banjir, tanah longsor, puting beliung di Banten dengan kemampuan yang ada,” ujarnya, kemarin.

Banyak cerita suka dan duka yang dialami anak pertama dari pasangan Budi Santoso dan Sumartun selama jadi relawan. Sukanya yakni, melihat orang yang dibantunya bisa bertahan hidup bahkan bisa kembali beraktivitas seperti biasa.

Untuk dukanya, dirinya menemukan pasien yang terlambat mendapatkan pertolongan, dan Tuhan berkehendak lain, padahal dirinya bersama rekan-rekan sudah berusaha dengan sekuat tenaga membantu kesembuhan dari pasien tersebut.

“Kadang sedih aja, kalau bertemu pasien dengan kondisi penyakit yang sudah parah. Dengan segala upaya sudah dilakukan untuk membantu pertolongan, tapi Allah SWT berkehendak lain. Mereka dipanggil oleh sang pencipta,” katanya.

Wiwit mengatakan, di Banten banyak pasien yang mengalami sakit bertahun-tahun tanpa adanya perhatian dari pemerintah. Wiwit bersama temanya mencoba bantu dengan dana swadaya dari warga Banten, bahkan dari luar Banten yang mendonasikan sedikit hartanya membantu membiayai pengobatan para pasien yang menginginkan kesembuhan.

“Biaya untuk pasien tak mampu biasanya dilakukan dengan menggalang dana melalui media sosial, jualan kaos, jualan gantungan kunci, sampai turun ke jalan untuk galang dana, namun rasa lelah itu semua terlupakan melihat kebahagiaan keluarga dan pasiennya,” katanya.

Banyak yang telah dilalui oleh wiwit selama bertahun-tahun menjadi relawan kemanusiaan di Banten, berbagi antar sesama dan bisa berbuat untuk orang banyak, merupakan kisah hidup yang tak akan terlupakan.

Apalagi ketika harus membawa pasien dari rumah, yang letaknya jauh dari pusat kota menuju rumah sakit dengan kondisi infrastruktur jalan yang rusak parah.

“Rasanya kasihan, kami saja orang yang sehat merasa tak nyaman duduk di atas mobil ambulans dengan jalanan yang kurang baik, apalagi mereka yang sedang sakit dan harus tiduran di atas ambulans,” katanya.

Bagi wanita lulusan Politeknik Pos Indonesia Bandung jurusan Teknik Informatika ini, menjadi seorang relawan banyak membuat dirinya belajar akan pentingnya berbagi dan bersyukur atas rizki yang telah diberi Tuhan, selain itu menjadi relawan, belajar untuk ikhlas memberi dan membantu sesama manusia meski tak mengenal siapa mereka.

[hhw]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge