0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Ratusan Balita di Wonogiri Alami Gizi Buruk

(Ilustrasi) Balita gizi buruk (dok.timlo.net/gg)

Wonogiri — Angka gizi buruk di Wonogiri semakin memprihatinkan. Hanya dalam jangka waktu tiga bulan, sudah ditemukan 43 kasus baru dengan total kasus sebanyak 312 buah. Ironisnya, pemerintah pusat justru tidak memberikan bantuan apapun, sedangkan bantuan dari daerah terlalu minim.

“Angka kasus itu tersebar di seluruh di 25 kecamatan yang ada,“ ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kabuopatan (DKK) Wonogiri Widodo melalui Kepala Bidang (Kabid) Upaya Kesehatan, Mubarok, Senin (20/4).

Menurut Mubarok, total kasus gizi buruk hingga akhir Maret 2015, sebanyak 312 buah. Sementara kasus baru di awal tahun hingga sekarang adalah 43 buah. Kasus yang sama di 2014 ada 331 buah, namun sebagian kecil sudah bisa ditangani hingga di akhir tahun kemarin menjadi 269. Tapi, sejak awal tahun meroket kembali menjadi 312 kasus gizi buruk.

“Kasus gizi buruk seringkali mengalami kenaikan, tapi dengan tiba-tiba menurun. Keseluruhan penderita berada di bawah usia 5 tahun (Balita),” katanya.

Ironisnya,masih lanjut Mubarok, bantuan dari pusat untuk para penderita gizi buruk, tahun ini kosong. Padahal tahun lalu ada. Hal ini sangat disayangkan, mengingat bantuan dari APBD Kabupaten yang hanya sebanyak Rp 12 juta setahun, jelas tidak mencukupi.

“Tahun lalu bantuan dari pusat ada. Yakni bantuan makanan pendamping. Sedangkan bantuan dari APBD Kabupaten hanya untuk rawat jalan dan rawat inap,” tegasnya.

Diakui, jumlah Balita gizi buruk kemungkinan besar lebih dari angka tersebut di lapangan. Hal ini didasarkan pada temuan-temuan sebelumnya.Disisi lain,pihak keluarga yang malu atau menutup diri merahasiakannya,sehingga tidak terdata.

“Padahal keterbukaan keluarga sangat penting untuk terus mengupayakan peminimalan kasus ini,“ paparnya.

Soal penyebab, diterangkannya beragam. Ada yang lantaran faktor ekonomi, ada pula yang karena salah asuhan, maupun adanya penyakit. Faktor ekonomi misalnya, orang tua Balita miskin, sehingga asupan gizi tidak terpenuhi.

“Penyakit-penyakit itu contohnya tubercolusis (TBC), atau hydrocepallus. Dengan adanya penyakit di tubuh balita, penyerapan gizi akan menjadi terhambat,“ tandasnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge