0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Tak Jadi Pimpinan KPK, Bambang Widjojanto Makin Sibuk

Bambang Widjojanto (dok.merdeka.com)

Timlo.net – Meski nonaktif dari jabatan petinggi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Bambang Widjojanto (BW) masih terus mengkampanyekan anti korupsi. Ia bersama pimpinan nonaktif lainnya, seperti Abraham Samad, keliling Indonesia berkampanye anti korupsi.

“Kalau dulu kan jadwal undangannya padet banget. Sekarang kan sangat padat,” ungkap Bambang, Kamis (16/4) malam.

BW mengaku bersama rekannya Abraham Samad, Ketua KPK yang juga telah dinonaktifkan, selalu berkomunikasi untuk melakukan upaya kegiatan sosialisasi antikorupsi di beberapa kota di Indonesia.

“Sama Samad kemarin masih ketemu,” ungkap BW sambil menyeruput secangkir kopinya di salah satu warung TBRS, pusat aktivitas seniman di Kota Semarang.

Tidak ada pembagian tugas atau wilayah khusus antara dirinya dan Abraham terkait soal sosialisasi dan upaya mengkampanyekan antikorupsi itu.

“Nggak juga aku kemarin ke timur juga. Saya ke Ujung Pandang, tadi saya ke Tebu Ireng juga,” paparnya.

Saat ini, BW bersama Abraham sedang melakukan kampanye antikorupsi di beberapa kota di Indonesia. Ia mengkampanyekannya bersama lima kelompok pegiat aktivis antikorupsi.

“Sekarang ada lima kelompok yang lagi bergerak. Salah satunya di sini kelompok kesenian,” jelasnya.

BW menjelaskan, kelompok kedua adalah kelompok aktivis antikorupsi perempuan.

“Sekarang juga masih bergerak kelompok perempuan itu. Sampai di NTT, di Yogya, di Bandung namanya KPK. KPK tuh Kami Perempuan Antikorupsi. Kemudian ada Solidaritas Perempuan Antikorupsi atau SPAK. Kalau sudah ada ibu-bu bergerak, itu pasti ada sesuatu,” ungkapnya.

Salah satu alasan munculnya gerakan perempuan secara masif ini, kata BW, dikarenakan setiap kali ada kasus yang menyangkut korupsi terhadap seorang suami, uang hasil korupsinya selalu diberikan pada Wanita Idaman Lain (WIL) alias selingkuhan sang suami. Begitu juga sebaliknya. Jika yang korupsi seorang istri maka uang hasil korupsi diberikan kepada Pria Idaman Lain (PIL).

“Sebab kalau uang hasil korupsi, dari bapak-bapak itu tidak diberikan pada ibu-ibu tapi diberikan kepada perempuan simpanan lain atau WIL. Begitupun kalau perempuan yang korupsi, diberikan pada Pria Idaman Lain (PIL),” tuturnya.

Kemudian kelompok ketiga, yaitu di kalangan pondok pesantren yang dilakukan kampanye anti korupsinya bersama BW adalah para sesepuh dan kalangan kyai atau ustadz.

“Yang ketiga, lintas kyai saya kemarin di Tebu Ireng sama pak kyai 20 kyai lebih di pesantren-pesantren. Jadi bergerak,” ujarnya.

Kemudian yang tak kalah pentingnya adalah melakukan kampanye antikorupsi bersama mahasiswa di kampus.

“Terus mahasiswa juga tadi di UNIKA Soegijapranoto Semarang. Sebelumnya, saya di Ujung Pandang. Sebelumnya lagi di Yogya. Di Bandung, di UI. Cukup banyak ada kelompok-kelompok itu,” ungkapnya.

Tak kalah menariknya, kampanye antikorupsi yang BW lakukan bersama beberapa komunitas-komunitas di masyarakat.

“Terus yang menarik, sekarang ada komunitas-komunitas masyarakat kayak kelompok kartunis, komunitas kata, orang-orang pembuat film, blogger-blogger, mereka juga punya keprihatinan yang sama,” ujarnya.

Kelompok yang paling akhir, adalah kelompok profesional. Kelompok ini adalah kelompok yang pertama bergerak saat dirinya dinonaktifkan yaitu seperti rektor, guru besar, dekan dan alumni-alumni di kampus-kampus.

“Satu lagi ada kelompok dari kelompok-kelompok profesional. Itu yang bergerak pertama kali paska saya komisionernya adalah guru-guru besar, alumni perguruan tinggi. Bukan mahasiswanya malahan,” tuturnya.

BW menambahkan, selama dirinya melakukan kampanye antikorupsi banyak bertemu dengan pendukung aktivis antikorupsi. BW berkeyakinan bahwa masyarakat sekarang tidak mudah dibodohi seperti dulu terkait proses permainan para koruptor untuk mengeruk uang negara.

“Saya ingin mengatakan masyarakat sekarang sudah cerdas. Mereka bisa memilah. Mana informasi yang bisa diyakini kebenarannya walaupun ada distorsi,” terangnya.

[ren]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge