0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Nelayan : Kapal Pukat Harimau Harus Ditangkap

merdeka.com
ilustrasi nelayan (merdeka.com)

Timlo.net – Para nelayan di Kecamatan Panipahan, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) mengeluhkan, adanya pukat harimau yang merusak perairan dan terumbu karang. Bahkan, polisi yang kerap patroli seolah menutup mata terhadap aktivitas nelayan kelas atas yang menggunakan pukat harimau tersebut.

“Susah kami mencari ikan. Mereka (nelayan besar) pakai Pukat Harimau yang sampai 100 ton ikan muatannya, kami cuma paling besar 1 ton, itupun sesekali,” ujar Ramlan Pelen (55), salah seorang nelayan saat berbincang dengan merdeka.com di Panipahan, Minggu (12/4).

Tak hanya Ramlan, seorang nelayan, A Karim (60), mengatakan isi minyak kapal pukat harimau tersebut sebanyak tiga kali hasil panen para nelayan kecil. Nelayan besar yang menggunakan pukat harimau seolah tak peduli dengan lingkungan.

“Kami lihat di televisi, katanya menteri melarang pukat harimau, tapi di sini tidak dilarang. Tolonglah selamatkan laut kita. Kami pun cari ikan tak ada merusak lingkungan laut kayak pukat itu,” kata Karim diikuti anggukan nelayan lainnya.

Menurutnya, pukat harimau milik nelayan besar milik tekong (juragan), tidak pernah ditangkap ataupun dilarang petugas di laut.

“Kami tidak menuduh aparat terima setoran dari tekong, tapi kenapa kok dibiarkan pukat harimau beroperasi,” keluh A Karim.

Perlu diketahui, Kecamatan Panipahan merupakan pesisir Kabupaten Rokan Hilir yang jaraknya tidak jauh dari Pulau Jemur. Pulau Jemur merupakan pulau terluar yang jaraknya 16 mil dari lampu perbatasan Indonesia dengan perairan internasional.

Pulau Jemur sempat menjadi rebutan antara Malaysia dengan Indonesia, hingga akhirnya Pulau Jemur masih menjadi milik Indonesia.

[dan]

Sumber : Merdeka.com

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge