0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

TimloMagz

Moncer Berkat Batik Kayu

foto: Nanang
(foto: Nanang)

Timlo.net – Krisis moneter yang melanda Indonesia justru membawa hikmah bagi Sumartoyo, warga Desa Jaten, Kecamatan Jaten, Karanganyar. Ia terpaksa harus dirumahkan dari sebuah perusahaan swasta bersama sejumlah rekan sekerjanya.

Belajar dari pengalaman menjadi seorang buruh, pria 51 tahun ini memulai usaha batik kayu. Modalnya, hanya keuletan dan semangat.

Hasil jerih payahnya itu, kini Sumartoyo menjadi seorang pengusaha. Hasil kreativitasnya pun merambah hingga pasar internasional.

Jalan menuju sukses tidaklah mudah baginya. Pengalaman saja tak cukup. Perlu banyak eksperimen sebelum menghasilkan karya besar.

“Terus mencoba dan mencoba, namun baru dua tahun kemudian bisa menghasilkan seperti apa yang saya inginkan,” kata Sumartoyo, saat berbincang dengan TimloMagz.

Awalnya, bapak dua anak ini hanya mengaplikasikan motif batik pada kerajinan kayu yang kecil-kecil. Seperti miniatur mobil-mobilan, gelang, topeng maupun souvenir untuk perkawinan.

“Kami juga mengembangkan motif batik untuk furniture yang lebih besar, seperti meja catur, capstok, meja, dan almari,” ungkap Sumartoyo.

Mengusung brand Puri Art, usahanya berkembang pesat. Animo masyarakat cukup tinggi dalam mengapresiasi kerja kerasnya itu.

Untuk mengembangkan jaringan pemasaran, berbagai pameran di sejumlah negara dia ikuti. Berbagai negara seperti Jepang, Singapura, Malaysia, Belgia, Belanda, dan Kanada sudah dia jelajahi.

“Kami memang sengaja sering ikut pemeran, untuk mengenalkan produk. Hasilnya juga kelihatan. Sekarang banyak juga pesanan dari luar negeri,” cerita Sumartoyo.

Uniknya, ia tidak memiliki motif khusus dalam memproduksi batik. Ia lebih suka membuat batik sesuai permintaan pasar. Alasannya cukup simpel, dengan mengikuti permintaan pasar dirinya lebih mudah dalam memasarkan produknya.

“Tidak terpaku pada motif tertentu tapi lebih pada selera pasar,” jelas sarjana ekonomi ini panjang lebar.

Sedangkan untuk bahan kerajinan pun Puri Art juga tidak tergantung dari satu bahan kayu saja namun juga lebih kepada permintaan pasar.

“Permintaan kayu apa saja, kami berusaha untuk memenuhinya, termasuk kayu jati,” imbuh Sumartoyo.

Dalam membuat sebuah karya ke- rajinan, Puri Art bekerja sama dengan mitra usaha. Pihaknya hanya membatik dan memberi warna kayu dengan nilai seni sehingga lebih bernilai.

Puri Art hanya untuk tempat membatik dan mewarnai kerajian kayu tersebut. Proses lain dikerjakan mitra kami,” jelasnya.

Dalam sehari, ia bisa menghasilkan 100 kerajinan batik kayu. Namun untuk furniture, membutuhkan waktu sekitar sebulan untuk menyelesaikannya.

Penghasilannya bisa dibilang cukup lumayan. Dalam sebulan, uang puluhan juta rupiah dapat diraupnya.

 

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge