0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Bebek Ceper, Terbang Sampai ke Inggris

foto: Aditya
(foto: Aditya)

Timlo.net – Deru dua mesin gergaji meraung-raung memekakkan telinga. Di hadapan masing-masing mesin pemotong kayu itu, dua pemuda yang mengenakan atribut pakaian ala ninja, asyik beradu dengan akar bambu yang dipegangnya. Layaknya hujan salju, dari hasil tajamnya mesin gergaji tersebut mengeluarkan serbuk-serbuk akar bambu yang menumpuk.

Sementara tak jauh dari raungan gergaji itu, pemuda lainnya tengah duduk memegang palu dan tatah membuat lubang pada akar bambu. Sayup-sayup alunan musik campursari dari sebuah perangkat radio, menemani seorang pria paruh baya lainnya yang tampak dengan cekatan dan memelototi patung bebek polos ditangannya.

Itulah sepenggal suasana bengkel kerja “Wahyu Handycraft” milik Daryono (54), pengrajin patung bebek yang terletak di Jalan Raya Yogya-Solo, tepatnya di Desa Jambu Kulon, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten.Pria paruh baya beranak dan bercucu tiga ini mengatakan, akar atau bonggol bambu merupakan bahan baku utama dalam membuat patung bebek.

Bonggol itu pun bukan sembarangan. Ia sengaja memilih bonggol bambu Ori. Pasalnya, serat bambu Ori tidak mudah dimakan rengat dan lebih kuat.

“Ya, seperti inilah aktivitas keseharian kami untuk mencari sesuap nasi. Setelah diserut dengan mesin shinso, bodi bonggol bambu yang bentuknya agak melengkung itu, dihaluskan dengan ampelas. Kemudian dilubangi dan ditatah sedemikian rupa, lalu dipasangi dengan komponen terpisah dari kayu akasia maupun jati yang berbentuk kaki,” ujar Daryono yang mengambil nama salah sorang putranya menjadi sebutan bengkel kerjanya.

Dengan membeli bonggol bambu Ori per biji Rp 4.400, sekali memesan bahan baku tersebut bisa merogoh kocek minimal Rp 14 juta.

Kalau jaman dulu, kata pria tamatan SD ini, setiap hari pasti ada yang memesan patung hasil karyanya tersebut.

“Dulu pas jaya-jayanya, modal Rp 500 bisa dijual Rp 25 ribu. Sekarang bahan baku Rp 4400 jualnya Rp 18 ribu. Itu pun bentuk patungnya bukan hanya bebek, tapi juga ada kentongan, babi,kuda, dan lain sebagainya,” ujarnya.

Bahkan, menurut pengakuan putranya yang berada di Subang, Jawa Barat, sambung Daryono, pembuat kerajinan dari bambu ini bentuknya pabrik, dikerjakan secara mesin.

”Di Subang bentuknya malah PT (Perseroan Terbatas). Pegawainya ba- nyak sekali. Sedangkan di bengkel ini hanya dikerjakan lima orang, saya sendiri bersama Wahyu (anaknya-red), dan tiga pegawai. Itu pun dalam sehari, satu orang bisa menyelesaikan 20 hingga 25 biji patung,” sambungnya.

Ia mulai menggeluti usaha ini pada 2002 lalu. Awalnya membuat kursi dan meja berbahan bambu. Berjalannya waktu, pria ini mencoba mengotak-atik sisa bonggol bambu atau limbah dari kursi dan meja itu untuk dipoles menjadi patung.

Disinggung omset dari usahanya itu, Daryono mengaku, memperoleh penghasilan hingga belasan juta rupiah tiap bulan. Tiap satu hingga tiga bulan sekali, bebek-bebeknya itu diekspor hingga ke Negeri “Ratu Elizabeth” Inggris.

“Selain pasar lokal, seperti Yogya, Bali, Jakarta, Semarang, patung bebek buatan saya ini diekspor ke Inggris. De-ngan dilabeli made in Indonesia, sebuah perusahaan di Semarang memesan 3 ribu bebek yang harga per bijinya Rp 17 ribu, untuk dikirim ke sana (Inggris-red),” sebutnya.

Ia menjelaskan, untuk patung yang diekspor ke Inggris wujudnya polos, tanpa hiasan warna, namun mengenakan sepatu.

“Memang kami juga bisa membuat bentuk patung lainnya, tergantung pesanan. Tapi untuk pesanan ke Inggris ini bentuknya polos setengah jadi, tanpa diwarnai. Karena pasarnya jelas dan perusahaan di Semarang itu sudah jadi langganan bertahun-tahun,” terang pria yang tidak memilki outlet ini.



loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge