0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Nikmatnya Gendar Pecel Khas Boyolali

dok.timlo.net/nanin
Gendar Pecel makanan khas Obyek Wisata Tlatar, sering diburu noni-noni Belanda (dok.timlo.net/nanin)

Boyolali — Gendar Pecel tentu tidak asing di lidah masyarakat Jawa Tengah,khususnya Soloraya. Biasanya, pecel disantap dengan nasi. Namun di Boyolali, tepatnya di Obyek Wisata Tlatar, pecel disantap dengan gendar. Gendar adalah nasi yang telah dikukus dengan menggunakan bleng, ditumbuk baru kemudian dipadatkan. Gendar disajikan dengan dipotong kecil-kecil atau sesuai selera pembeli.

Bagi pengunjung Obyek Wisata Tlatar, keberadaan gendar pecel ini bukanlah hal asing. Bahkan, makanan ini sangat mudah dicari. Pasalnya hampir semua warung di obyek wisata Tlatar menyajikanya. Selain kaya gizi, makanan ini juga murah meriah. Satu porsi gendar pecel dijual Rp 4.000.

Suparmi (40), salah satu pemilik warung gendar pecel, gendar pecel merupakan makanan asli wilayah Tlatar dan sudah menjadi ikon kuliner kawasan wisata tlatar. Gendar pecel ini banyak dicari pengunjung, sebab kombinasi sayur pecelnya terbilang berbeda dengan pecel lain. Seperti kenci atau selada air, kecipir, bunga turi, kol, dan bayam. Terlebih gendar sebagai pengganti nasi tak banyak ditemukan di wilayah lain.

”Di wilayah lain, gendar ini biasanya merupakan bahan baku krupuk berbahan beras. Tapi di Tlatar, gendar menjadi pendamping pecel,” jelas Suparmi yang sudah berjualan sejak tahun 1980-an, Senin (6/4).

Suparmi sendiri mengaku tidak mengetahui sejak kapan gendar pecel menjadi makanan favorit di Obyek Wisata Tlatar. Dirinya berjualan gendar pecel meneruskan usaha orang tuanya. Diakui, sengaja mempertahankan berjualan gendar pecel karena banyak dicari pengunjung. Bahkan, setahu dia, gendar pecel sendiri menjadi makanan kesukaan Noni-noni Belanda.

“Cerita orang tua saya dulu, makanan gendar pecel ini sudah jadi favorit orang Belanda yang datang ke Tlatar,” ungkapnya bangga.

Tono (55), warga salah satu pengunjung kawasan Tlatar mengatakan, saat ini gendar sudah jarang ditemui di pasar-pasar tradisional. Bila ada, gendar tersebut biasanya merupakan gendar kering yang sudah dipotong-potong untuk membuat krupuk.

“Rasanya lebih enak, agak kenyil-kenyil, beda di tempat lain,” imbuhnya sambil menikmati sepiring gendar pecel.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge