0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Abah Odil, Mantan Komisaris Mau Dorong Gerobak Bubur

dok.merdeka.com
Ate Rushendi (dok.merdeka.com)

Timlo.net – Perjuangan keras Ate Rushendi berjualan bubur patut menjadi teladan. Berawal dari jualan keliling di kota Malang, Jatim, ia sukses menjadi pengusaha bubur ternama.

Sebetulnya Abah Odil, panggilan akrabnya, tak perlu bersusah payah mendorong gerobak bubur serta menjajakannya keliling kota Malang jika tetap berada di zona nyaman.

Salah satu keputusan penting dalam hidupnya diambil pada 2004, ketika dia menetapkan hati untuk berjualan bubur ayam khas Tasikmalaya. Abah mencoba melawan arus di tengah budaya warga Kota Malang yang identik dengan makanan bakso dan pecel. Saat itu belum banyak penjual bubur di Kota Malang.

“Oke lah bismillah kita jual bubur saja dah. Yakin peluang ada. Ini lho ada alternatif lain, tidak hanya nasi pecel. Ini lho ada bubur ayam khas Tasikmalaya, Jawa Barat,” kata dia, Kamis (1/4).

Dia memutuskan fokus menjalani bisnis yang benar-benar dirintis dari bawah. Dia mengumpulkan tekad dan keberanian untuk kemudian memutuskan melangkahkan kaki keluar dari perusahaan tempatnya bekerja.

Padahal, saat itu Abah Odil sudah duduk di kursi empuk dengan jabatan yang prestisius sebagai komisaris perusahaan yang memiliki 500 karyawan.

Langkahnya pada 2005 itu tergolong berani. Dia meninggalkan kursi komisaris perusahaan dan rela menguras keringat mendorong gerobak bubur. Ibaratnya, dari semula berdasi dan jas mentereng, menjadi hanya berkalung handuk kecil.

“Karena ingin usaha saja, ingin seperti orang lain, melihat orang lain di jalan bisnis kelihatan enjoy gitu. Rasanya berbeda kalau ikut dengan orang lain,” katanya.

Sebelum mendorong gerobak, Abah Odil adalah salah satu komisaris sebuah pabrik sarung terkenal di Kota Malang. Dia memilih keluar dari pekerjaannya saat itu meski dari sisi materi dia tidak pernah kekurangan. Dengan alasan ingin memiliki usaha sendiri, Ate menjajal bisnis bubur Tasikmalaya.

“Sekarang saya bisa mengaji karyawan dari uang saya sendiri, bukan dari owner perusahaan. Saya bisa membahagiakan banyak orang, bisa lebih banyak beramal,” katanya.

Dengan ramah Abah Odil melanjutkan ceritanya. Di sela perbincangan, pria berjengot dengan topi haji warna hitam itu menyapa beberapa orang pembeli yang baru saja menikmati bubur ayam Tasikmalaya hasil olahannya. Sejak masih berjualan di gerobak, Abah Odil selalu menjaga kualitas bubur hasil olahannya.

“Saya setiap pagi mencoba bubur saya sebelum saya jual kepada orang lain. Sedikit-sedikit semua saya coba, dari buburnya sendiri sampai aksesoris-aksesorisnya, ini untuk melihat kualitas agar tetap terjaga.”

Bubur Abah Odil disajikan tanpa kuah, disajikan dengan sistim paket yang di dalamnya terdiri dari asinan sawi, cakwe, bawang prey, hati ayam dan jeroan, telur ayam kampung setengah matang, ditambah krupuk dan teh tawar.

Untuk menjamin kualitas tetap terjaga, Abah Odil selalu menyempatkan diri bertanya kepada pelanggannya mengenai rasa buburnya. Kalau tidak sempat bertanya, biasanya dia melihat dari mangkok bubur. Apakah buburnya tersisa banyak atau habis tak tersisa.

“Bagaimana meja satu? Bagaimana meja 2? Habis semua atau tidak? ‘Ada satu pak tidak habis’ Kita evaluasi apa yang menyebabkan tidak habis,” ungkapnya.

Kebanggaan Abah hanya satu, ketika semua pelanggannya puas dengan sajian buburnya. Mangkuk-mangkuk selalu bersih, tanpa sisa bubur.

“Kalau sudah seperti itu rasanya bahagia luar biasa,” ungkapnya.

[noe]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge