0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

3 Fotografer Andal Gelar Pameran Kertas, Gunting, Batu

Pameran fotografi "Kertas, Gunting, Batu" (dok.timlo.net/achmad khalik)

Karanganyar — Sebuah foto tak hanya menggambarkan tentang suasana. Di tangan seorang fotografer handal, foto mampu diolah untuk dijadikan sebuah cerita khusus yang memiliki alur atau kisah. Hal itu bukan pekerjaan yang mudah, karena harus menumbuhkan kedekatan emosi antara sang fotografer dan obyek yang akan diambil.

Berawal dari itu, tiga fotografer handal yang digawangi oleh Pandji Vasco Da Gama, Aji Susanto Anom dan Dhiky Aditya menggelar pameran foto bertajuk “Kertas, Gunting, Batu” di Rempah Rumahkarya, Desa Gajahan, Kecamatan Colomadu, Karanganyar, Selasa (14/1) malam.

Ketiga fotografer tersebut sepakat untuk mengusung tema tentang foto story malam Tahun Baru beberapa pekan lalu. Hasilnya, sederet foto-foto yang menggambarkan tentang kisah-kisah momentum pergantian tahun tersebut terpampang indah menghias dinding tempat pameran.

“Kami sepakat mengusung momen pergantian tahun kemarin untuk kami jadikan sebagai obyek foto story. Menurut kami, foto tak hanya sebagai potongan-potongan gambar semata. Melainkan mampu menceritakan sebuah perjalanan untuk dimaknai mendasar oleh seseorang,” terang Pandji, konseptor sekaligus penggagas pameran tersebut.

Menurut Pandji, sangat disayangkan jika sebuah momen pergantian tahun hanya diabadikan dalam bentuk potongan foto semata. Alangkah lebih indah, jika pergantian momen yang terjadi setahun sekali tersebut dirangkum dalam frame kamera dan menjadi sebuah kisah kenangan khusus. Tak hanya itu, pria alumnus Desain Interior ISI Yogyakarta tersebut juga mengatakan dirinya memilih momen pergantian tahun dengan mengabadikan kegiatan Srawung Candi #10 yang digagas oleh Padepokan Lemah Putih di Candi Sukuh, Ngargoyoso, Karanganyar.

“Foto story yang saya ambil kemarin adalah kegiatan Srawung Candi di Ngargoyoso, Karanganyar. Untuk mendapatkan obyek foto maksimal saya harus belajar terlebih dahulu tentang kegiatan tersebut. Agar menimbulkan ikatan emosi antara saya dan obyek yang akan diambil,” terang Pandji.

Dalam penggarapannya, lanjut Pandji, foto tersebut membutuhkan waktu berhari-hari. Tapi, hasil kerja dari pengambilan foto tersebut akan terbayarkan dengan hasil yang pastinya akan memuaskan.

“Kalau hasil foto story ini pastinya sangat memuaskan, dibandingkan dengan foto yang berdiri sendiri,” ujar pria yang pernah menyabet penghargaan sebagai Artist of Federation Photography Society Indonesia tersebut.

Di tempat yang sama, Aji Susanto Anom lebih memilih mengabadikan momen pergantian Tahun Baru tersebut di kawasan Jalan Slamet Riyadi Solo yang waktu itu diselenggarakan kegiatan car free night (CFN). Tampak, dalam karyanya yang diberi tema Untitled Night tersebut ekspresi kebahagiaan pengunjung CFN tergambar jelas dalam karya yang dipamerkannya tersebut.

“Kemarin, saya mengambil tema CFN. Bukan tanpa alasan saya mengambil tema tersebut. Karena ekspresi sesorang dalam momen tersebut sangatlah unik dan pantas untuk diabadikan dengan mata lensa,” terang Aji.

Terkait tema yang diangkat tersebut, bahwa kertas dimaknai sebagai simbol street photography yang merekam jejak dan peristiwa di ruang publik dengan spontanitas dan kadang tanpa pretensi. Sedangkan gunting dimaknai sebagai digital imaging. Dimana, selalu menjadi bagian dari aktivitas memotong gambar dan kemudian gambar tesebut diolah sedemikian rupa untuk mendapatkan hasil maksimal. Dan terakhir batu dimaknai sebagai simbol aliran piktorial yang ditampilkan dengan foto story.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge