• Kamis, 24 Mei 2012
Inflasi Januari 0,63 Persen

Cabai Seret Inflasi Tetap Tinggi

Andi Penowo - Timlo.net
Kamis, 3 Februari 2011 | 06:49 WIB
  • Share
Dok. Timlo.Net/Andi Penowo
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surakarta, Toto Desanto

Solo – Komoditas cabai rawit mendominasi sumbangan inflasi selama periode Januari lalu, hingga menyeret angka inflasi Kota Solo tetap tinggi. Adapun andil inflasi cabai rawit, yakni sebesar 0,3395 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surakarta, Toto Desanto, ketika ditemui wartawan di ruang kerjanya, Rabu (2/2) memaparkan, perkembangan harga berbagai komoditas pada Januari 2011 secara umum menunjukkan adanya kenaikan. Berdasarkan hasil pemantauan BPS, kata dia, terjadi inflasi 0,63 persen atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 118,69 pada Desember 2010 menjadi 119,44 pada Januari 2011.

Sementara itu, kendati komoditas beras andil inflasinya besar, menurut Toto, selama periode Januari komoditas tersebut tidak menunjukkan lonjakan yang berarti. Pasalnya, pada bulan tersebut pemerintah kota memberikan bantuan beras miskin (Raskin) kepada masyarakat..

Ditambahkan Kepala Seksi Distribusi BPS Kota Surakarta, Bambang Nugraha, “Pada Januari umumnya inflasi tinggi karena masalah cuaca dan juga belum ada panen raya. Harapannya di Februari ada tata niaga yang merata ke semua lini karena sangat berpengaruh ke konsumen, seperti beras impor ataupun cabai impor.”

Lebih lanjut pihaknya menyebutkan, ekspektasi BBM belum berpengaruh siginifikan terhadap inflasi Kota Solo. Bambang pun berharap pada Februari ini komoditas tersebut tidak memberi kontribusi tinggi terhadap inflasi.

Berdasarkan data BPS, inflasi Kota Surakarta ada di peringkat tertinggi kedua setelah Purwokerto dengan angka inflasi 0,95 persen. Sementara posisi ketiga dan keempat, yakni Semarang dan Tegal dengan inflasi masing-masing sebesar 0,60 persen dan 0,32 persen.

         

Berita Terkait

Komentar

  1. Monti

    Harga cabe tinggi, pemerintah buka kran impor cabe, sehingga tidak menguntungkan petani yang seharusnya bisa menikmati harga tinggi, meskipun bagi masyarakat mahal.
    Tapi pas harga cabe rendah, buat ongkos petik saja masih rugi. Akhirnya dibiarkan layu di pohon.
    Bukti pemerintah tidak pro petani, tapi pro pasar.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*


*

 

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

iklan PLN

iklan innity

Minicaster Radio Playhead

To listen you must install Flash Player. Visit Draftlight Networks for more info.

iklan mettafm

iklan monex indonesia

iklan bank jateng

iklan JS 300×125