0271-3022735 redaksi@timlo.net
default-logo

Cuaca ekstrim

Industri Pembuatan Genteng Lesu

- Timlo.net

Solo – Cuaca ekstrim yang kerap turun hujan akhir-akhir ini membuat industri pembuatan genteng lesu. Pasalnya, hampir mayoritas para pengusaha genteng masih memfaatkan terik sinar matahari untuk mengeringkan genteng.

Dengan melihat kondisi seperti itu sudah bisa dipastikan kalau pengusaha genteng mengalami penurunan omzet. Sulastri, salah seorang pengusaha genteng di daerah Kartosuro menjelaskan, cuaca adalah faktor pendukung pembuatan genteng. “Kalau musim hujan untuk mengeringkan genteng lama. Hasilnya juga kurang bagus tidak seperti ketika musim kemarau,” kata dia, Jumat (3/12).

Selain merugikan pengusaha genteng, musim penghujan seperti ini juga merugikan para buruh industri genteng, karena banyak pengusaha yang mengurangi produksi. Biasanya, pada setiap musim penghujan mereka beralih menjadi buruh tanam padi dan sebagian lainnya menganggur.

Hal senada juga dirasakan Partini salah seorang pembuat genteng di Desa Karang, Kecamatan Karanganom, Klaten. Ia mengatakan, musim penghujan seperti ini sangat sulit untuk mengeringkan genteng. Dalam satu tobong (tempat membakar genteng-red) yang jumlahnya mencapai 30.000 genteng, paling tidak dibutuhkan waktu satu setengah bulan bisa kering. Sedangkan pada musim kemarau hanya dibutuhkan waktu tiga minggu.

Baik Sulastri maupun Partini, tingginya curah hujan saat ini juga berimbas pada pemasaran genteng. Pada musim hujan seperti ini warga yang membangun rumah berkurang. Akibatnya penjualan genteng juga berkurang. “Apalagi musim hujan seperti ini, paling satu bulan hanya laku satu truk. Satu truk biasanya mampu memuat antara 4.000 hingga 5.000 genteng,” ujar Partini kepada Timlo.net.

Berita Terkait

Komentar Anda

Tinggalkan Pesan

*

KEMBALI KE ATAS