0271-3022735 redaksi@timlo.net
Timlo.net

Selesaikan Hutang, PDAM Solo Tempuh Jalur Mediasi

- Timlo.net
dok.timlo.net/dhefi nugroho

dok.timlo.net/dhefi nugroho

Direktur PDAM Kota Solo, Singgih Tri Wibowo

Solo — Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Solo akan menempuh jalur mediasi untuk menyelesaikan hutangnya dengan Pemkab Klaten. Mediasi dilakukan untuk mencari titik temu besaran nominal yang disepakati kedua belah pihak.

Sebelumnya, Pemkab Klaten menagih biaya pemanfaatan air bersih dari Umbul Ingas Cokro, Tulung, Klaten sebesar Rp 4,1 miliar. Dijelaskannya, besaran angka Rp 4,1 miliar itu didapat melalui penghitungan dengan rumus 15 persen (pajak) x tarif dasar air (TDA) x jumlah air yang diproduksi. Dari perhitungan itu maka PDAM Solo wajib membayar kontribusi rata-rata Rp 338 juta per bulan. Adapun TDA yang ditetapkan pada tahun 2012 ini senilai Rp 2.250 per meter kubik.

Atas tagihan itu, rencananya PDAM akan mengirim stafnya ke Biro Kerjasama Provinsi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa tengah (Jateng) untuk mengupayakan mediasi. “Senin (10/12) besok kami akan mengirim staf ke Semarang. Mediasi itu ada di Biro Kerjasama Provinsi,” kata Direktur Utama (Dirut) PDAM kota Solo, Singgih Tri Wibowo kepada wartawan di ruang kerjanya, Kamis (6/12).

Pada dasarnya, pihaknya menghormati apa yang ditetapkan oleh Pemkab Klaten. Namun, untuk memutuskan berapa nominal yang dibayarkan sebagai biaya pemanfaatan air tersebut, pihaknya masih menunggu hasil mediasi di tingkat Provinsi.

Ia berdalih, selama ini masih terjadi perbedaan persepsi antara PDAM kota Solo dan Pemkab Klaten dalam menentukan aturan baku penetapan besaran biaya pemanfaatan sumber air tersebut. “Kalau itu yang dijadikan aturan, kami bisa ditegur oleh Badan Pengawasan Keuangan dan pembangunan (BPKP). Ibaratnya, kami bayar salah, tidak bayar dikejar-kejar,” keluhnya.

Dijelaskan pula, sesuai dalam UUD 1945 bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara untuk kemakmuran rakyat. “Kami tetap berpedoman pada UUD 1945, UU no. 7 tahun 2004 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air, Pajak Daerah dan Retribusi Daerah,” tegasnya.

Disatu sisi dirinya mengakui, penyediaan air bersih oleh PDAM Solo masih mengandalkan air dari Cokro Tulung, Klaten. “Dari sana sekitar 40 persen,” ungkapnya.

Selama ini, suplai air bersih oleh PDAM kota Solo diambil dari Umbul Ingas, Cokro sebesar 380 liter per detik, sumur dalam sebesar 400 liter per detik dan sisanya mengambil air sungai Bengawan Solo.

Sementara, Walikota Solo, Hadi Rudyatmo meminta kepada PDAM untuk segera menyelesaikan permasalahan dengan Pemkab Klaten. “Air itu kan tidak kulakan, kalau sampai mengatakan rugi itu keliru,” tegasnya.

Kepada Pemkab Klaten, Rudy, sapaan Walikota juga mengharapkan agar Klaten tidak memutus suplai air bersih pada PDAM. “Air itu kan merupakan kebutuhan pokok. Jadi jangan sampai diputus. Kami akan lakukan pendekatan,” ungkapnya.



Berita Terkait

Komentar Anda

Tinggalkan Pesan

*

KEMBALI KE ATAS