Memorandum Perdamaian Untuk Tanjung Bale
Solo – Sejumlah tokoh agama dan budayawan Kota Solo berdialog dan menandatangani memorandum perdamaian di Wisma Seni TBJTS, kemarin malam (2/11). Aksi tersebut dipicu keprihatinan keberadaan Patung Budha di Vihara Tri Ratna di Tanjung Bale Sumatera Utara, yang hendak diturunkan.
Berawal dari sejumlah ormas Islam yang mengatasnamakan Gerakan Islam Bersatu yang mendesak pemerintah setempat untuk menurunkan Patung Budha dengan alasan keberadaan patung tersebut tidak mencerminkan kesan Islami di Kota Tanjung Bale dan dapat mengganggu keharmonisan di tengah-tengah masyarakat.
Dalang Komunitas Wayang Kampung Sebelah (WKS) yang juga sebagai penggagas acara tersebut, Ki Jlitheng Suparman menilai desakan penurunan Patung Budha oleh sejumlah ormas Islam tersebut bertentangan dengan Pancasila, UUD 45 serta semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
“Kami juga sangat menyesalkan kebijakan pemerintah setempat yang menyetujui desakan penurunan tersebut. Tindakan tersebut jelas merepresentasikan hegemoni kaum mayoritas yang tidak menghendaki keberadaan kaum minoritas di negeri ini. Tindakan ini selain menodai semangat pluralisme juga akan berdampak buruk bagi persatuan dan kesatuan bangsa,” tegas Jlitheng.
"Kebijakan pemkot Tanjung Bale itu jelas kian menegaskan bahwa pemerintah setempat pun juga turut melakukan intervensi terhadap sistem peribadatan suatu agama tertentu," lanjutnya.
Bila kasus seperti ini terus saja saja dibiarkan, sambung Jlitheng, maka dipastikan bakal menjadi preseden buruk bagi perjalanan keutuhan berbangsa dan bernegara dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ke depannya. “Oleh sebab itu, kami mengajak masyarakat Solo untuk bersama-sama menyerukan sikap keprihatinan sekaligus penolakan terhadap rencana penurunan Patung Budha di Vihara Tri Ratna Tanjung Bale,” ujarnya.
Di akhir acara, perwakilan pemuka agama dan budayawan, menandatangani memorandum pernyataan sikap yang nantinya akan dilayangkan kepada jajaran eksekutif dan legislatif Tanjung Bale, Dirjen Bimbingan Masyarakat (Bimmas) Kementerian Agama dan Kementerian Dalam Negeri (Mendagri) agar dijadikan pertimbangan dalam penyelesaian kasus konflik keyakinan ini.
Berita Terkait
Komentar
Tinggalkan Balasan
Berita Terkini
- Juwangi Jadi Sasaran TMMD
- Bus kok Numpaki Pembatas Jalan?
- Pengedar Ganja Diringkus
- Inilah, Ikrar Para Penjual Ciu
- Buku “Kisah Menarik Masa Kecil Pa...
- DPRD Keberatan Dengan Keringanan Re...
- Ayo Berinternet yang Sehat dan Aman...
- Petani Tembakau di Klaten Sulit Ban...
- GMNI Unisri Adakan Sarasehan Kebang...
- Rawan Kecelakaan, Empat Bukaan Medi...
- Belum-belum kok Sudah Bocor
- Selingkuhan Melapor, Oknum Polisi T...
- Mei, Mall Paragon Semarak Event
- Kantor Cabang KSPS Berkah Kebanjira...
- Gagal Dulang Poin di Aceh
Berita Terpopuler
- Batal Konser, Lady Gaga Jalan-jalan...
- Foto Rekonsiliasi Dua Raja Beredar
- Selama di Jakarta, Jokowi Pilih...
- Isi Maklumat Rekonsiliasi Dua Raja...
- Kerabat Keraton Tolak Tedjowulan...
- Aneh, Ular Piton Ini Kerap Menangis...
- KGPH Puger Ambil Alih Tugas Sinuhun...
- Gedung Bertingkat 28 Segera Berdiri...
- Kecelakaan Beruntun di Gembongan
- Hangabehi – Tedjowulan Kumpulkan...
- 2 Raja Damai, Tedjowulan Pilih Jadi...
- Terlalu Manja, Impian Masuk IPL...
- Car Free Day kok Sepi?
- Jokowi Ingin Kerabat Keraton Akur
- Buku Bergambar Nabi Muhammad...


Inilah Kronologi Penandatanganan Re...
Kerabat Kusumowandowo Ingin Diperte...
Besok, Hangabehi-Tedjowulan Bertemu...
Kerabat Keraton Datangi Balaikota
KPH Satriyo: Sinuhun Hangabehi Dire...
KGPH Puger Ambil Alih Tugas Sinuhun...
Sentana Dalem Keraton Urung Menghad...
karepe piye toh negoro iki?
Banyak orang terjebak dalam ambisi kosongnya lantas ingin menjadi tuhan bagi dirinya maupun orang di sekitarnya. Jika dulu hal ini dilakukan secara diam-diam, kini sudah mulai berani terang-terangan dan bergerombol… Seperti kawanan serigala yang melihat tulang dan darah sebagai sesuatu yang terlanjur diyakini sebagai sesuatu yang dapat mengenyangkan perut besar mereka
salut sama budayawan dan seniman kota surakarta, berbeda itu indah.
Saya kirim tulisan ini ke Romo J. Mardi Widayat yang sekarang sedang bertugas di Kamboja. Belia membalas demikian:
Widayat Mardi 03 November jam 15:16
saya sepakat. bila saya berada di solo, tentu akan ikut menandatangani. sampaikan salam saya kepada teman-teman pecinta perdamaian, apapun latarbelakanganya.
menyuap pejabat sudah biasa…kini mereka mencoba menyuap Tuhan….
menyuap pejabat sudah biasa…kini mereka mencoba menyuap Tuhan….
menyuap pejabat sudah biasa…kini mereka mencoba menyuap Tuhan….
Mslh Buddha bar yg mencoreng nama Buddhis msh blm kelar, kini muncul mslh baru yg ditunggangi GIB, yg notabene jg org FPI. Aneh2 aza negara ini.. Yg pantes diturunkan tu patung didlm bar yg berukuran 5 M. menistakan agama yg jls2 semua agama melarang prostitusi dan mabuk2an.
Salam dari Tanjungbalai :
Salut untuk bapak-bapak, ibu-ibu dan teman-teman di Solo yang telah memprakarsai
memorandum ini.
Terima kasih juga atas dukungan teman-teman se-Indonesia.
Semoga Indonesia tetap jaya………..
kenapa dengan negara ini yang seakan-akan tutup telinga dengan adanya hal seperti ini….ini hal yang penting jangan dianggap remeh kalo ga kepingin negara ini hancur karena keinginan sebagian kelompok yang menganaggap dirinya paling benar…!!!
harus segera diselesaikan lah…jangan dibiarkan berlarut-larut….Allah bless indonesia
ijin share ya….
salam dari tanjung balai. masalah seperti ini menunjukkan peradaban orang-orang setempat. sungguh memprihatinkan sekali indonesiaku yang tercinta ini. yang katanya berbeda-beda tetapi tetap satu jua. ternyata itu tidak dijunjung tinggi di kota ini. perbuatan menunjukkan nilai dari seseorang. begitulah kita menjadi tahu bagaimana sebenarnya nilai orang-orang di solo dan di tanjung bale…
apa orang-orang disana tidak memahami makna kata dari bhineka tunggal ika ? dan tidak memahami arti kata dari berbeda itu indah? mohon untuk teman-teman GIB untuk coba belajar kembali arti dari bhineka tunggal ika. dan untuk pemerintah nya NO COMENT.. *sick