Kedepankan Cinta Kasih, Bukan Balas Dendam
Solo – Sebuah repertoar ketoprak garapan, ditampilkan dalam Talk Show dan Pentas Budaya dengan tema Membangun Rekonsiliasi Untuk Mewujudkan Perdamaian di pendapa TBJT Surakarta, Rabu (29/9/). Ketoprak ini lain dari ketoprak yang bisa kita lihat. Cerita yang diangkat dari realita masyarakat yang berkembang saat ini.
Menurut ST. Wiyono selaku sutradara ketoprak tersebut, cerita yang dimainkan dalam ketoprak bukanlah cerita yang datang pada ketoprak umumnya, melainkan berangkat dari situasi sosial yang sekarang ini sudah banyak melahirkan konflik-konflik.
“Situasi ekonomi yang tidak menguntungkan sebagian masyarakat terkadang menjadi pemicu untuk melakukan tindakan represif. Tentu saja berlatarbelakang perubahan nasib dan semangat komunal masyarakat kelas bawah ini berusaha berteriak, bertempur demi sebuah keadilan yang mereka anggap benar,” ujarnya kepada Timlo.net.
Di sisi lain, bentuk ketidakpuasan terhadap pemerintah semakin meningkat. Kasus korupsi yang merajalela, kunker (kunjungan kerja) yang tidak bermanfaat, dan penghambur-hamburan anggaran uang negara, serta semakin meluasnya jurang antara sang miskin dan sang kaya menumbukan sebuah dendam untuk melahirkan dunia baru yang mereka jauh lebih baik.
“Seperti yang terlontar dalam ketoprak tadi. Saat ini sudah tidak ada Ketuhanan yang maha Esa, Tapi Keuangan yang maha Esa. Itu adalah sebuah keprihatinan dimana uang atau materi duduk di atas kepala dan menggantikan segala sesuatunya dengan uang,” imbuhnya.
Sementara itu, Digok Anurogo, yang dalam ketoprak berperan sebagai seorang kyai yang tengah mencari pengikut mengatakan, adanya gerakan-gerakan separatis muncul dari sebuah ketidakadilan. Kekecewaan mereka teramat mendalam hingga melahirkan faham baru. Alhasil segala cara ditempuh untuk melanggengkan faham mereka yang sebenarnya berangkat dari rasa balas dendamnya.
“Ini sungguh sangat memprihatinkan. Cerita ketoprak ini sendiri berangkat dari situasi tersebut, yang tentu saja mempunyai harapan untuk bisa mawas diri tidak mengedepankan dendam. Toleransi, cinta kasih, pengertian harus dikedepankan. Kekerasan bukanlah jalan untuk sebuah perubahan. Semoga di hari Perdamaian Internasional ini semuanya akan terbuka nuraninya dan terketuk hatinya. Sehingga damia bisa terwujud di bangsa ini maupun di seluruh dunia,” paparnya.
Berita Terkait
Berita Terkini
- Juwangi Jadi Sasaran TMMD
- Bus kok Numpaki Pembatas Jalan?
- Pengedar Ganja Diringkus
- Inilah, Ikrar Para Penjual Ciu
- Buku “Kisah Menarik Masa Kecil Pa...
- DPRD Keberatan Dengan Keringanan Re...
- Ayo Berinternet yang Sehat dan Aman...
- Petani Tembakau di Klaten Sulit Ban...
- GMNI Unisri Adakan Sarasehan Kebang...
- Rawan Kecelakaan, Empat Bukaan Medi...
- Belum-belum kok Sudah Bocor
- Selingkuhan Melapor, Oknum Polisi T...
- Mei, Mall Paragon Semarak Event
- Kantor Cabang KSPS Berkah Kebanjira...
- Gagal Dulang Poin di Aceh
Berita Terpopuler
- Batal Konser, Lady Gaga Jalan-jalan...
- Kecelakaan Beruntun di Gembongan
- Selama di Jakarta, Jokowi Pilih...
- Foto Rekonsiliasi Dua Raja Beredar
- 2 Raja Damai, Tedjowulan Pilih Jadi...
- Kerabat Keraton Tolak Tedjowulan...
- Aneh, Ular Piton Ini Kerap Menangis...
- Gedung Bertingkat 28 Segera Berdiri...
- KGPH Puger Ambil Alih Tugas Sinuhun...


Inilah Kronologi Penandatanganan Re...
Kerabat Kusumowandowo Ingin Diperte...
Besok, Hangabehi-Tedjowulan Bertemu...
Kerabat Keraton Datangi Balaikota
KPH Satriyo: Sinuhun Hangabehi Dire...
KGPH Puger Ambil Alih Tugas Sinuhun...
Sentana Dalem Keraton Urung Menghad...