0271-3022735 redaksi@timlo.net
default-logo

Melihat Sejarah Kampung Laweyan

Ki Ageng Henis, Tokoh Pendakwah Islam di Laweyan

- Timlo.net

Solo – Perkembangan sejarah masuknya Agama Islam di Surakarta, tidak dapat dipisahkan dengan sejarah Ki Ageng Henis. Mulanya Laweyan merupakan perkampungan masyarakat yang beragama Hindu Jawa. Ki Ageng Beluk, sahabat Ki Ageng Henis, adalah tokoh masyarakat Laweyan saat itu. Ia menganut agama Hindu, tetapi karena dakwah yang dilakukan oleh Ki Ageng Henis, Ki Ageng Beluk menjadi masuk Islam. Ki Ageng Beluk kemudian menyerahkan bangunan pura Hindu miliknya kepada Ki Ageng Henis untuk diubah menjadi Masjid Laweyan.

Kerajaan Mataram Islam dirintis oleh Ki Ageng Pemanahan, putera Ki Ageng Henis. Raja Mataram Islam yang pertama adalah Panembahan Senopati, putera dari Ki Ageng Pemanahan, cucu dari Ki Ageng Henis. Ki Ageng Henis dipercaya sebagai keturunan Prabu Brawijaya V, raja terakhir Majapahit yang meninggal sekitar tahun 1478. “Konon, kerangka dan mahkota Brawijaya V ikut dikuburkan bersama jenazah Ki Ageng Henis di kompleks makam ini,” jelas Yanto, Juru Kunci makam Ki Ageng Henis kepada Timlo.net Minggu (26/9).

Pembangunan Kerajaan Mataram berawal dari sayembara yang diadakan oleh Joko Tingkir. Saat itu, Keraton Pajang sedang bermusuhan dengan Arya Penangsang, Adipati Jipang yang membunuh kerabat Kerajaan Demak. Joko Tingkir mengumumkan sayembara kepada siapa saja yang bisa membunuh Arya Penangsang, akan dihadiahi tanah di daerah Mataram dan Pati.

Ki Ageng Pemanahan, Ki Penjawi, dan Sutowijoyo bersedia melakukan sayembara tersebut. Ketiganya berhasil mengalahkan Arya Penangsang sehingga tanah di daerah Mataram dan Pati jatuh ke tangan mereka. Ki Ageng Pemanahan memilih hutan di Mataram, dan Ki Penjawi mendapat tanah di Pati.

Ki Ageng Pemanahan membuka lahan bekas Kerajaan Mataram Hindu yang runtuh tahun 929 M, dan mendirikan Desa Mataram. Lalu ia menjadi kepala desa yang bergelar Ki Ageng Mataram. Desa inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Kerajaan Mataram Islam yang didirikan Sutawijaya.

Ki Ageng Henis adalah putera Ki Ageng Sela, keturunan dari Brawijaya V seorang raja Kerajaan Majapahit. Ki Ageng Henis adalah seorang punggawa Keraton Pajang semasa Jaka Tingkir menjadi Adipati. “Setelah Ki Ageng Henis meninggal, jenazahnya dimakamkan di tempat itu. Terdapat juga makam permaisuri Pakubuwono V, Nyi Ageng Pandanaran, Nyi Ageng Pati, Pangeran Widjil I Kadilangu, dan beberapa tokoh lain,” ungkap Yanto.

Saat ini bangunan makam masih terjaga. Di kompleks makam terdapat juga pohon nagasari yang berusia sekitar 500 tahun. Masjid yang letaknya bersebelahan dengan kompleks pemakaman itu juga masih aktif digunakan dan merupakan masjid tertua di Kota Solo. “Masjid itu berdiri sekitar tahun 1546 M,” pungkas Yanto.

Berita Terkait

Komentar Anda

Tinggalkan Pesan

*

KEMBALI KE ATAS