0271-3022735 redaksi@timlo.net
Timlo.net

Produksi Jamur Tiram Turun Drastis karena Kemarau

- Timlo.net
dok.timlo.net/nanin

dok.timlo.net/nanin

Jamur tiram

Boyolali — Musim kemarau yang terjadi tahun ini membuat petani jamur tiram khawatir. Pasalnya, bila kemarau tidak kunjung berakhir, mereka terancam kolaps. Hal ini dikarenakan selama musim kemarau produksi jamur tiram mengalami penurunan hingga 50 persen. Selain terancam kolaps,petani juga khawatir tidak bisa memenuhi permintaan pasar.

Cuaca yang panas mempengaruhi pertumbuhan spora sebagai bibit membuat jamur tiram. Spora pada media pembuatan jamur tiram berupa serbuk gergaji tidak bisa tumbuh dengan baik dalam kondisi suhu lebih dari 18 derajat Celcius. Spora yang berkembang di media menjadi lambat pertumbuhanya. Bahkan spora yang ada kabur akibat panasnya cuaca.

“Pertumbuhanya menjadi lambat, yang biasanya 40 hari setelah bibit jamur tiram muncul, bisa langsung dipanen, tapi kini harus menunggu 45 hari bahkan lebih untuk memanen,” ungkap Giri Sujatmiko, petani jamur tiram asal Ampel ditemui di Pendopo Kabupaten Boyolali, Sabtu (22/9).

Karena produksi lambat, banyak petani yang tidak bisa memenuhi permintaan jamur ke luar daerah. Jamur yang ada hanya untuk mencukupi pangsa pasar lokal itupun stoknya sangat terbatas. Biasanya petani jarum tiram ini bdalam sekali panen bisa menghasilkan 70 kg – 80 kg, namun saat ini hasil yang didapat hanya 40 kg hingga 50 kg.

”Kalau hujan tidak segera turun, kita juga khawatir akan kehilangan pembeli, karena tidak bisa memenuhi permintaan,” ungkap Lanjar, petani jarum asal Mojosongo, Boyolali.

Komentar Anda

Tinggalkan Pesan

*

KEMBALI KE ATAS