0271-3022735 redaksi@timlo.net
Timlo.net

Pementasan Ketoprak

Lukito Sari Edan di Balekambang

- Timlo.net
dok.timlo.net/achmad khalik

dok.timlo.net/achmad khalik

(ILustrasi) Salah satu adegan dalam pementasan ketoprak

Solo – Pementasan ketoprak Balekambang, Minggu (2/9) malam, mengangkat lakon Lukito Sari Edan yang menceritakan tentang seorang tokoh yang hidup di jaman Kerajaan Mataram di daerah Madiun. Nama tokoh tersebut ialah Ronggo Jamuno yang merupakan seorang Adipati di daerah Madiun yang merupakan kekuasaan dari Mataram.

Suatu ketika Adipati Madiun, Ronggo Jamuno tidak inin membayarkan upeti kepada Kerajaan Mataram yang notabene adalah ibukota kerajaan. Melihat hal itu Panembahan Senopati yang merupakan raja Mataram murka dan menyuruh prajuritnya menggempur Madiun. Namun sayang, dikarenakan Madiun di bantu oleh kerajaan-kerajaan pesisir sehingga Mataram kewalahan menyerang negeri bawahannya tersebut.

Panembahan Senopati juga tak kalah akal. Dirinya mengutus salah satu selirnya yang bernama Nyai Adi Soro untuk berpura-pura mengaku kalah kepada Ronggo Jamuno dengan tanda membasuh kakinya dan air bekas basuhannya tersebut digunakan untuk jamas (keramas) Panembahan Senopati.

Setelah siasat itu dilakukan, akhirnya Ronggo Jamuno merasa dirinya menang dan menyuruh para panglima-panglima dari negeri pesisir untuk pulang kedaerahnya masing-masing. Setelah mereka pulang, Panembahan Senopati akhirnya menggempur habis-habisan kerajaan Madiun tempat Ronggo Jamuno berada sehingga kerjaan tersebut porak poranda dan kalahlah raja Ronggo Jamuno.

Sutradara ketoprak Agus Krisbiyantoro, mengatakan pementasan yang diadakan tersebut menyiratkan pesan semestinyalah seseorang melihat posisinya. Apabila dirinya berada di bawah, harusnya dia juga sadar dan mematuhi perintah atasannya. “Sudah menjadi kodrat bahwa di atas langit masih ada langit. Begitu juga manusia,” ujarnya ditemui sesudah pementasan tersebut.

Agus juga mengatakan, setelah mendapakatkan kemenangan, terkadang orang tersebut menjadi lengah dan dianggapnya hal tersebut adalah kemenangan yang mutlak. Padahal itu merupakan siasat dari kerajaan Mataram. “Janganlah kita terlena dengan kemenangan sementara,” ungkapnya.

 

Berita Terkait

Komentar Anda

Tinggalkan Pesan

*

KEMBALI KE ATAS