0271-3022735 redaksi@timlo.net
default-logo

Kerajinan Sangkar Burung Mojosongo, Bak Permata yang Belum Digosok

- Timlo.net

Solo – Sekumpulan warga desa Ngampon, Kelurahan Mojosongo, tengah lebur dalam pekerjaannya. Ada yang sedang meraut, melubangi, mengeringkan, dan membentuk pola bambu yang akan dibentuk menjadi sebuah sangkar burung,

Mereka adalah sebagian dari beberapa kelompok pengrajin sangkar burung yang berada di desa Ngampon, Mojosongo. Mereka tergabung dalam paguyuban pengrajin sangkar burung yang bernama “Karya Manunggal”. Bentuk usaha mereka berupa home industry atau industri rumahan.

Mulai dari memilih, memotong, meraut, mengeringkan bambu, hingga membentuknya menjadi sebuah sangkar burung yang bernilai jual cukup tinggi. Setyo Agung misalnya, salah satu pengrajin yang masih aktif membuat sangkar burung, telah memulai usahanya secara turun temurun mulai dari kakeknya.

Setyo mengawali usahanya pada akhir tahun 80an, dan saat ini telah memiliki 5 karyawan dan dikerjakan secara bersama dengan kerabat keluarganya yang juga menekuni usaha ini. Setyo mengaku dahulu hanya 1-2 orang yang bisa membuat sangkar, namun saat ini ada banyak dan tergabung dalam paguyuban Karya Manunggal. Dan dahulu proses pembuatannya masih secara manual sekali.

Bahan baku yang paling utama pembuatan sangkar burung adalah bambu, 80% bahan pembuatan sangkar burng adalah bambu. Dan bambunya harus berjenis bambu Apus, karena terkenal dengan rosnya (buku bambu) yang berkualitas.

Dalam Usahanya Setyo mengeluhkan kendala modal, cuaca, dan hari raya. ”Modal menjadi yang paling utama karena usahanya dikerjakan secara rumahan dan dengan modal sendiri. Sampai saat ini belum ada penanganan serius dari pemerintah untuk mengembangkan potensi ini, hanya dari LSM yang masih aktif membantu” papar Setyo.

Berita Terkait

Komentar Anda

Tinggalkan Pesan

*

KEMBALI KE ATAS