• Rabu, 23 Mei 2012
Garap Wayang Jauh Lebih Komunikatif

Wayang Climen, Walau Sederhana Namun Jauh Mengena

Bram Dwi Atmanto - Timlo.net
Senin, 9 Agustus 2010 | 19:10 WIB
  • Share
Dok. Timlo.Net/Bram
Ki Jelitheng Suparman tengah memainkan wayang dalam pementasan Wayang Climen di Balai Soedjatmoko, minggu (8/8/2010).

Solo  – Pada dasarnya segala bentuk kesenian pertunjukan adalah wadah komunikatif antara sang seniman dengan penonton. Konsep itulah menjadi dasar Ki Jlitheng Suparman dalang yang kondang dengan Wayang Kampung Sebelah dalam menggarap sebuah pementasan Wayang Purwo jauh lebih komunikatif.

Konsep komunikasi aspiratif sangat mendominasi gelaran wayang yang cukup sederhana. ini Geber mini dengan sedikit pemain karawitan serta seorang sinden tidaklah menjadi masalah dalam pementasan Wayang ini, karena inti dari wayang terletak pada komunikasi yang terjalin antara sang dalang dengan penonton.

Begitu pula yang terlihat di Balai Soedjatmoko, dalam pementasan Wayang Climen kemarin malam (8/8/2010). Puluhan orang yang memadati halaman depan Balai Soedjatmoko, tertawa, bahkan sesekali melemparkan pendapat yang mendukung, menyanggah, ataupun menanggapi percakapan wayang. Konsep ini tidak terlihat pada wayang klasik lain yang dimainkan.

Ki Jlitheng Suparman sendiri sang dalang mengatakan pada dasarnya kesenian apapun itu harus bisa mewadahi keinginan masyarakat dalam menjawab persoalan yang ada di sekitarnya sehingga menjadi pemikiran bersama. “Saya mencoba mengamati situasi dan kondisi yang sedang in sekarang ini. Dari fakta ini menjadi sebuah dongeng atau cerita yang menghiasi pertunjukan wayang tersebut”, paparnya dihubungi Timlo.net via telepon.

Dalam Wayang Climen lakon "Widarakandhang" adalah bentuk cerita yang cukup representative menggambarkan penderitaan rakyat. “Widarakandhang ini mengambil setting pedesaan yang cukup bisa menggambarkan situasi penderitaan, penindasan hampir sama dengan situasi kekinian. Lakon Widarakandhang ini satu-satunya kisah didalam wayang Purwo yang bisa digubah, mengingat Lakon lain banyak yang bersetting kerajaan”, terangnya.

Gubahan wayang yang ia beri judul Wayang Climen memang cukup berbeda dari wayang yang acapkali dilihat sebagian besar masyarakat. Namun ia mengaku tidak takut terhadap selentingan masyarakat ataupun seniman wayang yang mengatakan wayang garapannya tidak sesuai pakem. “Sebenarnya jika kita bicara pakem itu apa sih? bentuknya seperti apa? wujudnya seperti apa? ketika saya bertanya seperti itu banyak yang tidak tahu. Seharusnya seniman bisa lebih ekspresif dan tidak dibebani masa lalu”, pungkasnya.

Seorang pengunjung bernama Hartanto (34) mengaku sangat terkesan dengan wayang Climen besutan Ki Jlitheng Suparman. "Walaupun lain dari wayang pada umumnya namun pesan moral yang disampaikan cukup mengena karena menggabungkan lakon dengan situasi saat ini", terangnya kepada Timlo.net.

Kedepan, Dalang yang sering pentas dengan kelompok Wayang Kampung Sebelah ini akan tetap berjalan dengan konsep wayang garapannya. Namun ia tidak menutup kemungkinan bagi dalang yang mengajak kolaborasi. “Asalkan sepaham, dan mempunyai orientasi tujuan yang sama saya siap berkolaborasi dengan siapapun”, katanya.

         

Berita Terkait

Komentar

  1. D3pd

    Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan :-)

    Maafin dyka ya

    Salam *sungkem 10 jari*

  2. putu

    kerennnnnnnnnnnnnnnnn!!!!! aku suka. . :)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*


*

 

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

iklan innity

google adsense

Minicaster Radio Playhead

To listen you must install Flash Player. Visit Draftlight Networks for more info.

iklan JS 300×125