0271-3022735 redaksi@timlo.net
default-logo

MUI Solo Kutuk Penyerangan Pengajian di Blora

- Timlo.net
Dok.Timlo.net/ Achmad Khalik

Dok.Timlo.net/ Achmad Khalik

Ketua MUI Solo dan sejumlah tokoh masyarakat menggelar Jumpa Pers terkait penyerangan pengajian MTA di Blora, Selasa (24/7).

Solo  — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Solo mengutuk serangan terhadap satgas dan fasilitas pengajian umum Majelis Tafsir Al Quran (MTA) di Blora beberapa waktu lalu. Dari hasil investigasi, serangan tersebut dilakukan secara terencana dan terorganisir.

Pernyataan tersebut dilontarkan Ketua MUI Solo KH Zainal Arifin Adnan dalam jumpa pers di Mapolresta Solo, Selasa (24/7) siang. Di depan sejumlah tokoh umat Islam, cendekiawan serta tokoh masyarakat, KH Zainal Arifin mengatakan, pernyataan tersebut menindaklanjuti rapat yang telah digelar pada Selasa (17/7) dengan memanggil pengurus MTA Solo.

“Kami prihatin terhadap tindak kekerasan horisontal yang terjadi. Dalam pertemuan tersebut menyimpulkan perlunya melakukan investigasi atas peristiwa penyerangan yang terjadi pada Jumat malam 13 Juli lalu di Blora,”  ujarnya.

Lebih lanjut KH Zainal menjelaskan, hasil investigasi yang dilakukan menemukan beberapa fakta, bahwa serangan yang dilakukan terhadap satgas dan fasilitas pengajian MTA tersebut merupakan serangan yang terencana dan terorganisir.

Dalam jumpa pers tersebu,t Ketua MTA Solo, Ustadz Ahmad Sukino memaparkan penyerangan itu bermula, Kamis (13/7) pagi. Saat itu mobil yang membawa peralatan tenda dihadang oleh sejumlah massa kecil, kemudian Satgas MTA diturunkan untuk mengendalikan situasi. Namun, menjelang siang sampai malam kondisi semakin memanas, gerombolan massa di sekeliling lapangan bertambah banyak, sedangkan jumlah satgas dan satuan kepolisian yang diturunkan hanya mampu berjaga-jaga.

“Menjelang malam tiba-tiba terjadi serangan lemparan batu dari segala penjuru. Untuk mengamankan kondisi, satgas dan jamaah MTA diamankan ke kantor Polsekta setempat,” terang Sukino.

Akibat dari serangan itu delapan satgas MTA terluka, 7 mobil rusak berat dan terbakar, dan panggung dibakar. Pengajian umum yang sedianya dilaksanakan, Jumat (14/7) akhirnya batal.

Melihat kondisi fakta hasil investigasi, MUI beserta cendekiawan dan tokoh masyarakat menyatakan, serangan tersebut melanggar Undang-Undang Dasar 1945 hasil Amandemen Pasal 28E (2), bahwa setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.

Berita Terkait

Komentar Anda

Tinggalkan Pesan

*

KEMBALI KE ATAS