Seniman GKS : Masa, Solo yang Kota Budaya Tidak Punya Gedung Kesenian
Solo – Gedung Kesenian Surakarta (GKS) terus berfungsi sebagaimana mestinya ditengah wacana perobohan gedung tersebut oleh Pemkot yang rencananya akan digunakan sebagai taman kota ini. Wacana perobohan ini sendiri cukup ditanggapi para penggiat GKS dengan arif. Seperti diungkapkan Joko Narimo, "Jika memang Pemkot menghendaki perobohan Gedung Kesenian Surakarta, ia mengaku siap."
“Kita ga bisa menolak rencana pemkot tersebut mas, ya kalau maunya Pemkot seperti itu ya kita manut saja, tapi walaupun nantinya kita tidak di Sriwedari lagi, kita akan tetap berkomitmen menggelar berbagai kegiatan dengan tetap mengusung nama GKS”, ujarnya. Joko Narimo sendiri merasa prihatin dengan dihancurkannya Gedung Kesenian Surakarta, praktis kota Solo tidak mempunyai gedung kesenian.
“Jika dilihat kegiatan di GKS ini bukan hanya pameran dan pertunjukan semata. Ada pola yang kita bangun disini yakni edukasi, sirkulasi, dan eksebisi. Edukasi maksudnya adalah pembuatan workshop, pelatihan, dan pembelajaran, sedangkan sirkulasi adalah perluasan jaringan dan yang terakhir adalah Eksebisi yang berarti pembuatan karya dan mengarah pada penyuguhan karya kepada masyarakat. Jadi bisa dikatakan bahwa selama ini GKS telah melakukan pemberdayaan”, terangnya.
Sementara itu Yayok Aryo Seno seorang pelukis yang juga aktif berkegiatan di GKS mengaku bahwa ia dan teman-teman manut dengan keputusan pemerintah, namun ia mengingatkan apakah pantas kota Solo yang disebut sebagai kota budaya berkembang tanpa memiliki Gedung Kesenian. “Secara pribadi saya siap jika ini mau dirobohkan tetapi alangkah lebih baik jika dipertimbangkan ulang, masa Solo yang kota Budaya tidak punya Gedung Kesenian itukan lucu”, pungkasnya.
Senada dengan Joko Narimo, Yayok juga akan terus menghidupi segala kegiatan di GKS jika seandainya gedung tersebut dirobohkan. “Saya tetap akan berkegiatan seni walaupun tempatnya bukan lagi di GKS Sriwedari, tapi kita akan selalu pakai nama GKS. Dan yang patut dicatat bahwa GKS ini bukan hanya tempat untuk menampilkan karya semata namun juga sebagai tempat atau proses penciptaan seni”, ujarnya.
Harapan Yayok, jika GKS dirobohkan paling tidak ada ganti rugi ataupun tempat ganti yang bisa untuk berkegiatan seni. “Lha wong PKL saja diberi gantinya masa, GKS yang berisikan seniman-seniman muda tidak diberi? Saya berharap pemerintah Solo mau memikirkan itu, lagi pula saat ini banyak gedung sekolah yang mangkrak, kan itu bisa dipakai untuk gedung kesenian”, jelasnya.
Berita Terkait
Komentar
Tinggalkan Balasan
Berita Terkini
- Juwangi Jadi Sasaran TMMD
- Bus kok Numpaki Pembatas Jalan?
- Pengedar Ganja Diringkus
- Inilah, Ikrar Para Penjual Ciu
- Buku “Kisah Menarik Masa Kecil Pa...
- DPRD Keberatan Dengan Keringanan Re...
- Ayo Berinternet yang Sehat dan Aman...
- Petani Tembakau di Klaten Sulit Ban...
- GMNI Unisri Adakan Sarasehan Kebang...
- Rawan Kecelakaan, Empat Bukaan Medi...
- Belum-belum kok Sudah Bocor
- Selingkuhan Melapor, Oknum Polisi T...
- Mei, Mall Paragon Semarak Event
- Kantor Cabang KSPS Berkah Kebanjira...
- Gagal Dulang Poin di Aceh


Inilah Kronologi Penandatanganan Re...
Kerabat Kusumowandowo Ingin Diperte...
Besok, Hangabehi-Tedjowulan Bertemu...
Kerabat Keraton Datangi Balaikota
KPH Satriyo: Sinuhun Hangabehi Dire...
KGPH Puger Ambil Alih Tugas Sinuhun...
Sentana Dalem Keraton Urung Menghad...
Solo tidak punya gedung kesenian tidak masalah. Kita lihat saja gedung-gedung kesenian yang sudah ada di Indonesia… tanpa sadar gedung itu telah memisahkan kesenian dengan masyarakat.. Tuhan sudah menyediakan ruang ekspresi sedemikian luasnya masih kurang? Gedung kesenian tak lebih wajah industri seni yang kapitalistik… saya berharap seniman Solo justru menolak gedung kesenian, karena hanya akan membuang uang rakyat dengan percuma..!
Menurutku infrastruktur juga perlu, dan setahuku di GKS dikelola oleh beberapa gerilyawan dan komunitas seni yang butuh "ruang", bukan dibangun oleh pemerintah (lha wong pemerintah saja pengen merobohkan). lha rakyat itu siapa? seniman juga rakyat kan?
oalah…kenapa sih ribut2 dengan gedung kesenian, kan udah banyak gedung yang ada misal TBS, bisa dipakai untuk bekerja sama berkesenian. Peliharalah gedung yang sudah ada dan pakailah uang rakyat sebaik-baiknya, jangan dihambur-hamburkan. Anda tahu..kalau setiap bangunan itu memakan biaya yang luar biasa serta perawatannya juga menelan biaya, sedangkan masih banyak rakyat kita yang masih belum bisa rutin makan sehari-hari, makan aja senin kamis.
Janganlah wah tapi akhirnya growah
heheheh baca koment nya pak jliteng dadi ngguyu dewe, pak jlitheng tuh seperti politikus pembela rakyat jelata wakakkaak….pernyataannya apa di koment apa gak nyambung!
selamat berjuang pak jlitheng!
gks dulu merupakan bioskop yang terlantar, digunakan oleh seniman menjadi lebih berfungsi, jika memang ingin dipugar, seharusnya pemerintah memberikan solusi dan apresiasi bagi para seniman yang menjaganya.