• Rabu, 23 Mei 2012
Terkait Wacana Perobohan GKS

Seniman GKS : Masa, Solo yang Kota Budaya Tidak Punya Gedung Kesenian

Bram Dwi Atmanto - Timlo.net
Senin, 2 Agustus 2010 | 13:39 WIB
  • Share
Dok. Timlo.Net/Bram
Yayok Aryo Seno, menyayangkan jika Solo sebagai kota budaya tidak memiliki gedung kesenian.

Solo – Gedung Kesenian Surakarta (GKS) terus berfungsi sebagaimana mestinya ditengah wacana perobohan gedung tersebut oleh Pemkot yang rencananya akan digunakan sebagai taman kota ini. Wacana perobohan ini sendiri cukup ditanggapi para penggiat GKS dengan arif. Seperti diungkapkan Joko Narimo, "Jika memang Pemkot menghendaki perobohan Gedung Kesenian Surakarta, ia mengaku siap."

“Kita ga bisa menolak rencana pemkot tersebut mas, ya kalau maunya Pemkot seperti itu ya kita manut saja, tapi walaupun nantinya kita tidak di Sriwedari lagi, kita akan tetap berkomitmen menggelar berbagai kegiatan dengan tetap mengusung nama GKS”, ujarnya. Joko Narimo sendiri merasa prihatin dengan dihancurkannya Gedung Kesenian Surakarta, praktis kota Solo tidak mempunyai gedung kesenian.

“Jika dilihat kegiatan di GKS ini bukan hanya pameran dan pertunjukan semata. Ada pola yang kita bangun disini yakni edukasi, sirkulasi, dan eksebisi. Edukasi maksudnya adalah pembuatan workshop, pelatihan, dan pembelajaran, sedangkan sirkulasi adalah perluasan jaringan dan yang terakhir adalah Eksebisi yang berarti pembuatan karya dan mengarah pada penyuguhan karya kepada masyarakat. Jadi bisa dikatakan bahwa selama ini GKS telah melakukan pemberdayaan”, terangnya.

Sementara itu Yayok Aryo Seno seorang pelukis yang juga aktif berkegiatan di GKS mengaku bahwa ia dan teman-teman manut dengan keputusan pemerintah, namun ia mengingatkan apakah pantas kota Solo yang disebut sebagai kota budaya berkembang tanpa memiliki Gedung Kesenian. “Secara pribadi saya siap jika ini mau dirobohkan tetapi alangkah lebih baik jika dipertimbangkan ulang, masa Solo yang kota Budaya tidak punya Gedung Kesenian itukan lucu”, pungkasnya.

Senada dengan Joko Narimo, Yayok juga akan terus menghidupi segala kegiatan di GKS jika seandainya gedung tersebut dirobohkan. “Saya tetap akan berkegiatan seni walaupun tempatnya bukan lagi di GKS Sriwedari, tapi kita akan selalu pakai nama GKS. Dan yang patut dicatat bahwa GKS ini bukan hanya tempat untuk menampilkan karya semata namun juga sebagai tempat atau proses penciptaan seni”, ujarnya.

Harapan Yayok, jika GKS dirobohkan paling tidak ada ganti rugi ataupun tempat ganti yang bisa untuk berkegiatan seni. “Lha wong PKL saja diberi gantinya masa, GKS yang berisikan seniman-seniman muda tidak diberi? Saya berharap pemerintah Solo mau memikirkan itu, lagi pula saat ini banyak gedung sekolah yang mangkrak, kan itu bisa dipakai untuk gedung kesenian”, jelasnya.

         

Berita Terkait

Komentar

  1. Mas Kampret

    Solo tidak punya gedung kesenian tidak masalah. Kita lihat saja gedung-gedung kesenian yang sudah ada di Indonesia… tanpa sadar gedung itu telah memisahkan kesenian dengan masyarakat.. Tuhan sudah menyediakan ruang ekspresi sedemikian luasnya masih kurang? Gedung kesenian tak lebih wajah industri seni yang kapitalistik… saya berharap seniman Solo justru menolak gedung kesenian, karena hanya akan membuang uang rakyat dengan percuma..!

  2. Muh Ismanto

    Menurutku infrastruktur juga perlu, dan setahuku di GKS dikelola oleh beberapa gerilyawan dan komunitas seni yang butuh "ruang", bukan dibangun oleh pemerintah (lha wong pemerintah saja pengen merobohkan). lha rakyat itu siapa? seniman juga rakyat kan?

  3. mbak handa

    oalah…kenapa sih ribut2 dengan gedung kesenian, kan udah banyak gedung yang ada misal TBS, bisa dipakai untuk bekerja sama berkesenian. Peliharalah gedung yang sudah ada dan pakailah uang rakyat sebaik-baiknya, jangan dihambur-hamburkan. Anda tahu..kalau setiap bangunan itu memakan biaya yang luar biasa serta perawatannya juga menelan biaya, sedangkan masih banyak rakyat kita yang masih belum bisa rutin makan sehari-hari, makan aja senin kamis.
    Janganlah wah tapi akhirnya growah

  4. yayok aryoseno

    heheheh baca koment nya pak jliteng dadi ngguyu dewe, pak jlitheng tuh seperti politikus pembela rakyat jelata wakakkaak….pernyataannya apa di koment apa gak nyambung!
    selamat berjuang pak jlitheng!

  5. rahma

    gks dulu merupakan bioskop yang terlantar, digunakan oleh seniman menjadi lebih berfungsi, jika memang ingin dipugar, seharusnya pemerintah memberikan solusi dan apresiasi bagi para seniman yang menjaganya.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*


*

 

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

iklan innity

google adsense

Minicaster Radio Playhead

To listen you must install Flash Player. Visit Draftlight Networks for more info.

iklan JS 300×125