0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Sebagian Dilanda Kekeringan, Warga Malah Tolak Hujan

Tanaman jambu mete di wilayah timur Wonogiri saat ini tengah dalam masa pembungaan hingga berbuah, sehingga peka terhadap turunnya hujan yang dikhawatirkan merusak proses pembuahan (dok.timlo.net/aris arianto)

Wonogiri – Jika masyarakat Wonogiri bagian selatan yang terlanda bencana kekeringan minta turunnya hujan, lain halnya dengan masyarakat Wonogiri di wilayah timur. Warga justru menolak turunnya hujan supaya tanaman jambu mete mereka berbuah lebat dan memaksimalkan hasil panen.

Saat ini hamparan tanaman jambu mete di bagian timur Wonogiri yang meliputi Kecamatan Ngadirojo, Sidoharjo, Jatisrono, Jatiroto, Jatipuro, dan Slogohimo tengah dalam masa pembungaan hingga hampir berbuah. Sehingga jika ada hujan dikhawatirkan bakal merusak proses penyerbukan.

“Kalau ada hujan bunganya akan rusak dan berguguran, air hujan yang mengenai bunga membuat bunganya rusak, tidak jadi berbuah, akibatnya panenan mete jadi gagal,“ ungkap Subandi (60), warga Desa Ngrompak, Kecamatan Jatisrono, Sabtu (30/6).

Kegagalan panen ini pernah terjadi pada tahun 2010 lalu. Akibat tingginya curah hujan, banyak bunga siap serbuk yang menjadi rusak. Produksi mete turun drastis kala itu.

“Untuk tahun ini sepertinya produksinya bagus, dengar-dengar satu kilo kering dari petani dihargai Rp 60 ribu, kalau yang masih basah dan ada kulitnya Rp 15 ribu, ya harapan kami semoga tidak ada hujan paling tidak sampai masa panenan usai,“ ungkap Miswanto, penduduk Kecamatan Slogohimo.

Ditambahkannya minimal butuh waktu dua bulan lagi hingga mete siap panen. Sedangkan masa panenan berlangsung dalam jangka satu bulan sejak pertama dipetik.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge