0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pentas KKTT di TBJT

Ontran-ontran di Kemangiran

Kelompok Kethoprak Wismakarman mengusung "Lakon Ontran ontran Kemangiran", Rabu (27/6) malam di TBJT Solo. (Dok.Timlo.net/ Achmad Khalik)

Solo —  Kelompok Kerja Teater Tradisional Wiswakarman (KKTT) tampil di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta, Kentingan, Jebres, Solo, Rabu (27/6) malam. Kelompok ini mengusung lakon era awal kebangkitan Mataram Islam dengan judul Ontran-ontran Kemangiran.

Lakon tersebut mengisahkan tentang perang antara Kerajaan Mataram dengan daerah perdikan yang bernama Kemangiran. Kemangiran sendiri adalah sebuah daerah yang subur, gemah ripah loh jinawi dan dipimpin Ki Ageng Wonoboyo (Ki Ageng Mangir). Kemakmuran tersebut rupanya membuat Mataram yang dipimpin Panembahan Senopati ingin merebut daerah itu.

Panembahan Senopati akhirnya menggunakan siasat dengan mengirimkan anaknya Dewi Pembayun untuk menjebak Ki Ageng Mangir. Singkat cerita akhirnya Ki Ageng Mangir terjebak dengan siasat Panembahan Senopati dan akhirnya kalah dari Mataram.

Pementasan tersebut dikemas dengan sangat apik serta luwes, tidak hanya menampilkan sisi peperangan semata tetapi juga diselingi dengan dagelan yang membuat para penonton tertawa terpingkal-pingkal.

Menurut Syafaat Astiyanto selaku Ketua Umum KKTT Wiswakarman, lakon tersebut dipentaskan sekitar 25 pemain ketoprak yang ikut terlibat. “Jumlah pemain ketoprak ini sekitar 25 orang, kalau ditambah dengan pengrawitnya bisa sekitar 50 orang,” ujarnya saat ditemui Timlo.net sebelum acara pementasan.

Persiapan yang dilakukan untuk pementasan tersebut, lanjut dia, membutuhkan waktu sekitar 2 bulan. Selama waktu tersebut banyak kendala yang dihadapinya, diantaranya kurangnya waktu latihan untuk para peserta ketoprak tersebut. “Anggota kami keseluruhannya adalah mahasiswa, jadi saat latihan diadakan banyak berbenturan dengan jadwal kuliah, tugas kampus dan kendala lainnya. Tetapi itu semua tidak menyurutkan niat kami untuk tampil di TBJT ini,” ungkapnya.

Dia juga mengatakan, KKTT Wiswakarman banyak bergerak di teater ketoprak klasik, tapi tidak hanya sebagai pelaku melainkan juga sebagai seniman, peneliti, maupun kritikus seni budaya. Harapannya setelah pagelaran ketoprak itu, agar KKTT Wiswakarman lebih dikenal oleh masyarakat luas, tidak hanya di lingkungan kampus saja melainkan juga menggema di masyarakat Solo ini. “Kita ingin lebih dikenal oleh masyarakat luas,” ujarnya.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge