0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Tidak Sekedar Tari, Tak Andalkan Gerak Semata

Tari Obyag-obyog karya Bayu P (Bolot) dari Wonogiri yang ikut ditampilkan dalam acara Tidak Sekedar Tari di Wisma Seni TBJT, Rabu (27/6) malam. (Dok.Timlo.net/ Achmad Khalik)

Solo — Pementasan Tidak Sekedar Tari yang diselenggarakan di Pendhapa Wisma Seni, Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Kentingan, Jebres, Solo,  Rabu (27/6) malam. Acara tersebut berhasil menyedot perhatian penonton, tidak hanya warga lokal tetapi juga terlihat beberapa warga negara asing.

Dalam pementasan tersebut ditampilkan 5 tarian di antaranya Tak Lelo Ledhung, Autis, Pilar, Wisik dan Obyog-obyog. Kelima peserta menampilkan performance maksimal. Namun, menurut penjelasan Wahyu Santoso Prabowo selaku Dosen Jurusan Tari di Institut Seni Indonesia (ISI), dari semua peserta tari tersebut masih mengandalkan bentuk (koreografi) sehingga dirasakannya kehilangan greget akan roh tarian itu sendiri.

Maka dari itu, pesan yang harusnya dapat disampaikan dalam tarian tersebut tidak dapat ditangkap oleh penikmat dan hanya menjadi obral gerak semata. “Roh akan tarian tersebut saya rasa masih kurang, tetapi untuk koreografinya saya rasa sudah bagus,” ujarnya dalam sesi tanya jawab yang di laksanakan selepas acara Tidak Sekedar Tari. Ditambahkan, perlu adanya komunikasi antara karya yang disajikan dengan penghayatan karya tersebut.

Sementara itu, Djarot BD selaku koordinator acara Tidak Sekedar Tari mengatakan acara ini bersifat non profit dan berfungsi untuk memberi ruang pada peserta agar lebih bereksperimen. Djarot mengibaratkan laboratorium bagi para seniman tari.

“Acara ini merupakan laboratorium agar para seniman tari bisa mencari estetika dan etika baru  dengan karyanya tersebut,” ujarnya.

Djarot pun berharap, acara tersebut lebih banyak lagi diselenggarakan agar tercipta bibit-bibit seniman tari yang baru. Ia mengkhawatirkan bergesernya suatu karya seni tari yang dulunya bisa dianggap sebagai panutan dan bimbingan bergeser ke arah hiburan semata.

“Yang saya takutkan satu, Mas, bergesernya tari ke arah hiburan sehingga akan menghilangkan unsur panutan yang ada di dalamnya. Lewat acara ini mari kita bersama-sama menciptakan bibit-bibit baru dan berkualitas,” ungkapya.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge