0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Melon Sragen Siap Masuki Pasar Asia

Direktur Budidaya dan Pasca Panen Kementerian Pertanian RI, Sri Kuntarsih (kanan) bersama Plt Sekda Sragen, Endang Handayani, melakiukan panen melon perdana secara simbolis, di Desa Gabus, Kecamatan Ngrampal, Sragen. (dok.timlo.net/agung widodo)

Sragen – Buah melon asal Desa Gabus, Kecamatan Ngrampal, Kabupaten Sragen, siap memasuki pasar ekspor. Demikian dikatakan, Direktur Budidaya dan Pasca Panen Kementerian Pertanian Sri Kuntarsih, yang sengaja datang di Sragen untuk melakukan panen perdana buah melon di Demplot Pengembangan Kawasan Buah Melon standart Asean GAP yang ditanam oleh Kelompok Tani Gotong Royong Desa Gabus, Selasa (26/6).

Dalam laporannya, Sumantri MP, dari Dinas Pertanian Propinsi Jawa Tengah mengatakan,  dipilihnya kabupaten Sragen sebagai lokasi demplot tanaman melon Asean GAP karena Sragen merupakan sentra budidaya melon di Jawa Tengah. Selain itu  di Sragen juga telah berdiri Asosiasi Agribisnis Melon Indonesia (AAMI). Sumantri mengharapkan, produksi melon Indonesia akan terangkat harganya dan bisa memasuki pasar ekspot.

“Diharapkan melon dari Sragen ini dapat diangkat untuk eksport Asia Tenggara,” katanya.

Plt Sekda Sragen, Endang Handayani, yang dalam kesesempatan tersebut mewakili Bupati Sragen, Agus Fatchur Rahman, mengatakan, informasi yang didapat dari para Kelompok Tani Gotong Royong Desa Gabus, dapat disebarluaskan kepada para petani elon lainnya, sehingga ini dapat dijadikan sarana untuk meningkatkan produktivitas melon di Kabupaten Sragen. Endang mengungkapkan, secara keseluruhan pada Juni 2012, panen melon di Kabupaten Sragen sebanyak  6367 ton, dengan luas lahan 32 Ha dan angka produktivitasnya 230,20 Kw/Ha.

Sementara itu Sri Kuntarsih, dalam sambutannya di hadapan para petani melon mengatakan, Asean GAP merupakan standar untuk panduan budidaya baik dalam proses produksi sampai panen serta penanganan pasca panen. Saat ini Indonesia telah mengikuti program Asean GAP, yang pada tahun 2015 mendatang diharapkan semua produk tanaman bisa memasuki pasar eksport di Asean.

“Kalau petani mau berpendapatan lebih maka hasil pertaniannya harus dijual ke negara maju. Di sana orang-orangnya pendapatanya lebih tinggi. Kita harus bisa menerobos pasar luar negeri,” kata Kuntarsih.

Dia menjelaskan, budidaya tanaman melon meski tingkat kegagalan panenya tidak kecil namun  hasilnya juga lumayan besar. Untuk sepertiga hektarnya petani harus mengeluarkan modal biaya produksi sebesar Rp 20 juta hingga Rp 30 juta. Hasil panennya bisa mencapai Rp 65 juta dalam masa tanam sekitar dua bulan. Jadi petani akan untung bersih sekitar Rp 40 juta.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge