0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Metta Budaya Usung “Sirnaning Angkara”

Sanggar Seni Metta Budaya menggelar sendratari Ramayana di Pendapa TBJT Solo, Jumat (22/6). (Dok.Timlo.net/ Achmad Khalik)

Solo — Sanggar Seni Mettaa Budaya menggelar sendra tari Wayang Ramayana di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Kentingan, Jebres, Solo dengan lakon Sirnaning Angkara/ Shinta Boyong, Jumat (22/6) malam. Dalam pementasan tersebut banyak didominasi  anak-anak yang memerankan Anoman serta pasukan kera.

Tari wayang Ramayana bercerita tentang perang besar yang terjadi di negara Alengka Diraja. Kerajaan besar Alengka diraja terbakar. Apinya berkobar lantaran perang antara Raden Ramawijaya dan Rahwana yang memperebutkan kekuasaan, harga diri dan cinta.

Singkat cerita Dewi Shinta yang menjadi pernah diculik Rahwana dan disembunyikan di Negara Alengka berhasil direbut Ramawijaya dan dibawa ke Ayudya. Di tengah perjalanan, Ramawijaya tidak percaya dengan kesetiaan Shinta karena lama berada di Alengka. Ternyata Shinta tetap setia, bahkan setelah Rama tidak percaya Shinta besedia masuk ke kobaran api. Karena kesetiaan Shinta tersebut, mengakibatkan dirinya tidak terbakar tetapi kobaran api malah menambah keelokan dan kecantikan Shinta.

Adanya anak-anak dalam pementasan tersebut cukup menarik perhatian para penonton. Acara pementasan yang dilaksanakan saat liburan sekolah tersebut mendapatkan antusiasme dari para peserta drama tari itu.

Joko Sudiono selaku Ketua Sanggar Seni Metta Budaya Surakarta mengaku, anak-anak tersebut berlatih seminggu sebanyak 3 kali yaitu hari Selasa, Rabu, dan Jumat. Sanggar Metta Budaya sendiri telah berdiri sejak tahun 1959 dan sekarang telah mempunyai anggota 200 orang lebih. “Sanggar Metta Budaya merupakan sanggar tertua di Solo ini,” ujarnya.

Dirinya mengaku senang dikarenakan telah diberikan kesempatan untuk bisa tampil di Taman Budaya Jawa Tengah, karena bisa memberikan wadah bagi anak-anak untuk bisa mengeksspresikan dirinya. Saat ini wadah kebudayaan untuk anak-anak dinilainya sangat kurang padahal pengaruh budaya asing saat ini semakin marak. “Bagaimana kita bisa membentengi anak-anak kita, kalau tidak dengan wadah eksspresi seperti ini,” pungkasnya.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge