0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kemah Budaya Penuh Suasana Ndeso

Solo — Kemah Budaya 2012 digunakan untuk lebih menanamkan budaya Solo kepada generasi muda. Generasi muda yang terbiasa dengan kehidupan modern di perkenalkan dengan kehidupan yang berbeda dengan biasa yang mereka temui.

Seperti halnya di kemah budaya ini, para peserta dilarang membawa alat komunikasi dan perhiasan. Sandal japit bandol serta pakaian tradisional wajib dipakai  para peserta kemah budaya.

Menurut penuturan Fajar Afiatno, Ketua Pelaksana Kemah Budaya 2012, para peserta dikenalkan dengan suasana pedesaan yang jauh dari kebiasaan mereka yang sekarang. “Bayangkan bahwa suasana kehidupan desa itu seperti ini,” ujarnya saat ditemui Timlo.net, Jumat (22/6).

Kemah budaya ini, lanjut Fajar, diikuti lebih dari 200 peserta yang terdiri dari siswa-siswi tingkat SMA/SMK. Penyeleksian peserta didasarkan pada siswa/siswi yang mempunyai ketertarikan pada kesenian. “Tiap sekolah di Solo kami berikan undangan untuk mengikuti kemah budaya, nantinya dari sekolah itu akan mengirimkan 6 peserta. Dari 6 peserta tersebut kami tempatkan mereka kedalam 4 kampung seni diantaranya kampung topeng, batik, wayang, karawitan. Nantinya dari tiap kelompok kampung harus mementaskan karya seninya di Malam Inagurasi,” jelasnya.

Harapan ke depan untuk kemah budaya ini, lanjutnya, agar para peserta ini nantinya selain mengerti akan budaya wong Solo juga menjadi kritikus-kritikus seni. “Solo mempunyai agenda seni yang sangat padat, diharapkan mereka bisa menjadi kritikus seni yang ada di Solo, supaya kedepannya bisa menilai agenda seni yang bersifat panutan serta perlu dikembangkan dengan yang dirasa kurang perlu yang hanya akan menghabiskan biaya anggaran pemerintah kota,” ujarnya.

Sementara itu salah seorang peserta, Vina Eri dari SMAN 7 Solo tertarik mengikuti Kemah Budaya agar bisa mengetahui tentang budaya-budaya yang ada di Solo. Ia berharap kegiatan ini bisa dikembangkan terus dan digali lagi budaya-budaya yang ada di Solo terutama yang belum diketahui oleh banyak orang. “Kegiatan seperti ini perlu dikembangkan lagi agar semakin banyak anak muda yang bangga jadi Wong Solo,” ujarnya.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge