0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Manuk Tobong Bertebaran di Wonogiri

Beberapa warga tengah melihat-lihat burung yang dijual para pedagang manuk tobong di pinggir jalan raya di Ngadirojo Wonogiri Jum'at (22/6) (dok.timlo.net/aris arianto)

Wonogiri  — Satu minggu belakangan ini, wilayah Wonogiri diramaikan kedatangan Manuk Tobong yang berasal dari DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta). Manuk Tobong tersebut biasanya bergerombol di pinggir jalan raya yang mudah dilihat pengguna jalan.

“Tidak setiap hari Mas, tapi ya sering dan selalu berpindah-pindah, tergantung kira-kira yang ramai di mana, makanya warga menamainya Manuk Tobong bagi mereka,“ tutur Imam Maryoto, warga Desa Banyakprodo, Kecamatan Tirtomoyo, Wonogiri, Jumat (22/6) sambil menunjuk kerumunan pedagang burung di Kecamatan Ngadirojo.

Manuk tobong berdasarkan penuturannya adalah sebutan bagi pedagang manuk (burung) yang membongkar-muat dagangannya di jalanan. Aktivitas ini disebut tobong yang merupakan singkatan dari toto-bongkar.

“Manuk yang dijual umumnya jenis oceh-ocehan Mas. Kalau yang jenis anggungan seperti Perkutut, Derkuku, atau Puter sangat jarang,” tambah Imam .

Marjuki, salah satu pedagang burung (Manuk Tobong) mengakui sebagian besar jualannya dari jenis burung ocehan semacam Nuri, Parkit, Cucak Raja  dan Cimblek. “Yang ocehan lebih tahan cuaca Mas, dan sekarang banyak yang nyari,“ jelasnya. Burung dagangan Marjuki berasal dari penangkaran di daerah DIY.

Lantaran wilayah Wonogiri masih dirasa berprospek, akhirnya dia bersama beberapa rekan mencoba keberuntungan dengan berlaku tobong. “Kadang di Wonogiri Kota kadang di Ngadirojo, kadang di Baturetno. Ya berdasarkan perasaan saja mana yang kelihatannya ramai,“ paparnya. Harga burung dagangannya bervariasi. Parkit dibanderol Rp 100 ribu/ekor, Nuri Rp 400 ribu, dan Cucak Raja seharga Rp 750.000.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge