0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Kidung Gandrung, Drama Realis Bernuansa Nggrantes

Lakon Kidung Gandrung yang diusung Teater Citra Mandiri dalam Festival Drama Realis, Rabu (2/6). (Dok.Timlo.net/ Achmad Khalik)

Solo — Sebanyak 6 kelompok teater menampilkan pementasan drama dalam Festival Teater Realis SMA, di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Kentingan, Jebres, Surakarta, Rabu (20/6).

Malam pertama festival ini dibuka dengan penampilan Teater Citra Mandiri dari SMAN 2 Surakarta dengan lakon Kidung Gandrung garapan sutradara muda  Yogi Swara Manitis Aji. Drama tersebut menceritakan tentang suatu tempat pedesaan yang bernama Jatirejo. Desa tersebut mempunyai kepala desa baru sehingga diadakan pesta dengan menampilkan 4 penari ledek yang menghibur warga.

Dari sinilah awal mulanya kemelut muncul,salah seorang ledek yang bernama Lastri bersitegang dengan pacarnya karena pacarnya memandang pasangannya (Lastri) ada main gila dengan anak Bu Lurah (Burhan). Tetapi perseteruan tesebut dapat teredam dengan pengertian mereka masing-masing.

Kehidupanpun terus bergulir, kemiskinan terus membayangi Lastri sang penari ledek cantik.
Pacar lastri menyarankan untuk pergi ke ibukota mencari penghidupan yang lebih baik untuk biaya pernikahan mereka. Suasana sedih dan haru menyelimuti kedua pasangan tersebut karena Lastri tetep bersikeras tinggal di desanya. Dilain sisi, Burhan kesengsem dengan Lastri yang pernah ditemuinya saat ibunya menggelar pesta di kampungnya. Nama dan wajah lastri terus terngiang di kepalanya.

Haripun berganti akhirnya anak Burhan menemui Lastri dan menyatakan cintanya, tetapi lastri menolak karena telah mempunyai pujaan hatinya sendiri. Disaat yang sama Pak Sunggodo (ayah Lastri) meminjam uang ke Bu Lurah, di saat itu Burhan pulang ke rumah dan mengetahui bahwa Bu Lurah meminjamkan uang ke Pak Sunggodo. Padahal awalnya Bu Lurah menolak meminjamkan uang ke Pak Sunggodo karena utangnya masih banyak. Akhirnya rencana Burhan membujuk ayah Lastri itupun terlaksana. Pak Sunggodo terus memaksa anaknya tersebut untuk menikah dengan Burhan anak Bu Lurah.

Setelah itu penyelenggaraan pesta perkawinanpun hendak digelar, tetapi Lastri tidak mau menikahi anak Bu Lurah. Tanpa dinyana dan diduga akhirnya Lastri memilih untuk bunuh diri daripada menikah dengan anak Bu Lurah.

Dalam reportoar tersebut menyiratkan kisah bahwa perempan selalu dijadikan objek dan tidak bisa memilih pilihannya. Selalu terdesak dengan keadaan yang menghimpitnya. Menurut salah seorang penonton Andri  mengatakan teater drama yang dipentaskan oleh anak-anak SMA tersebut sangat bagus.

 



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge