0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Ribuan Warga Saksikan Kirab Dwitunggal Keraton

Kirab Dwi Tunggal Keraton Solo pasca Jumenengan PB XIII Hangabehi. (Dok.Timlo.net/ Daryono)

Solo —  Ribuan warga Solo dan sekitarnya antusias menyaksikan Kirab Ageng Jumenengan Dalem Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Minggu (17/6) sore. Sepanjang jalan yang dilewati arak-arakan kirab dipadati masyarakat mulai dari  area pagelaran keraton, tempat dimulainya kirab. Banyak masyarakat sepertinya tak ingin melewatkan moment tersebut dengan mengabadikan kirab tersebut dengan ponsel ataupun kamera mereka.

Kirab dimulai sekitar pukul 15.00 WIB. Di barisan terdepan sejumlah Muspida di antaranya terlihat Ketua DPRD YF Sukasno menaiki kuda. Sementara dibelakangnya 3 kuda yang di antaranya dinaiki GPH Mangkubumi.

Di belakangnya terdapat Kereta Kencana yang dinaiki Sinuhun Pakubuwono XIII Hangabehi, dimana didepannya terdapat barisan prajurit keraton. Dalam kereta bernama Kyai Garodopoetra tersebut Sinuhun naik bersama Permaisuri Kanjeng Ratu Pakoebuwono serta Putra Mahkota GPH Purboyo yang baru berusia 10 tahun. Sementara Panembahan Agung Tedjowulan menaiki kuda di sebelah kanan kereta Sinuhun Hangabehi.

Kemudian di belakangnya terdapat 3 kereta kencana lagi yang dinaiki para pengageng dan sentana dalem, di antaranya GKR Timoer di kereta kedua, Istri Panembahan Agung Tedjowulan di kereta ketiga dan Gusti Dipokusumo di kereta ke empat. Kemudian di barisan paling akhir merupakan barisan penggembira diantaranya abdi dalem dan sejumlah kesenian tradisional.

Antusiasme masyarakat yang cukup tinggi sempat membuat Jalan Slamet Riyadi macet. Ketika rombongan kirab melewati Bundaran Gladak, kendaraan dari arah barat praktis berhenti total sampai kemudian rombongan kirab lewat. Dari Gladak kirab berjalan ke arah utara melewati depan Balaikota kemudian  belok kanan melalui Pasar Gede dan sampai perempatan Balong belok kanan menuju Jalan Kapten Mulyadi.

Lantas di  perempatan Baturono belok kanan, lalu perempatan Gemblegan belok kanan hingga perempatan Nonongan ke kanan melalui Gladag dan kembali lagi ke pagelaran keraton.

Salah seorang pengageng keraton, KP Satriyo Hadinagoro mengatakan kirab tersebut merupakan kirab pasca Jumenengan. Kirab kali ini merupakan kirab sewindhu (8 tahun). “Sudah 7 tahun tidak ada kirab seperti ini,” ujar Satriyo.

Melalui kirab ini diharapkan keraton kembali bisa mandiri, terhormat dan berwibawa. Keraton juga mampu memberikan kembali sumbangsih bagi masyarakat, negara dan bangsa. “Yang istimewa kirab kali ini bersamaan dengan HUT Pemkot,” tambah Satriyo.

Sementara Juru Bicara Panembahan Agung Tedjowulan mengatakan, melalui kirab ini keraton ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa dualisme keraton telah usai. Disamping itu juga bentuk syukuran keraton dan pemkot atas rekonsiliasi yang terjadi.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge