0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Sulistiyo Dwi Setyorini, Yulia Rahmawati dan Mukhlas Ariesta

3 Mahasiswa Pertanian UNS Ciptakan Pupuk Hayati

Dari kiri, Sulistiyo Dwi Setyorini (Agroteknologi Fakultas Pertanian UNS tahun 2009), Yulia Rahmawati (Agroteknologi tahun 2008), dan Mukhlas Ariesta (Agroteknologi tahun 2008). (dok.timlo.net/niza novita)

Solo — Tiga mahasiswa Agroteknologi Fakultas Pertanian UNS Surakarta, yakni Sulistiyo Dwi Setyorini, Yulia Rahmawati dan Mukhlas Ariesta berhasil memperoleh dana Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) sebesar Rp 10 juta. Mereka juga lolos  ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas).

Ketiganya, Jumat (15/6) menjelaskan laporan akhir PKM yang berjudul “Pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya hayati sebagai upaya peningkatan kemandirian petani Dukuh Jebresan, Desa Kadirejo, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten”.

Dijelaskan, alasan mengambil judul PKM tersebut dikarenakan ketergantungan petani pada bahan kimia masih sangat tinggi. Kurangnya informasi keilmiahan dan keterbatasan pengetahuan penyuluh dan petani merupakan salah satu kendala untuk mewujudkan pertanian yang ramah lingkungan. “Program pemanfaatan sumber hayati merupakan salah satu program yang diharapkan dapat memberikan wawasan baru bagi petani, sehingga petani memiliki pengetahuan dan keahlian dalam pengendalian hama penyakit secara hayat, maka dari itu perlu adanya program pemanfaatan sumber daya hayati yang ditujukan kepada petani pada umumnya dan penyuluh pada khususnya sebagai inovasi baru dalam mengusahakan lahan pertaniannya,” ungkap Yulia Rahmawati.

Sejak revolusi hijau lebih dari 60 tahun yang lalu, penggunaan bahan kimia pada lahan pertanian meningkat sangat tajam. Dosis pemupukan semakin tahun semakin meningkat, bila tahun 1950 dosis pemupukan padi hanya sekitar 100 kg per ha, pada tahun 2009 menjadi 500 kg per ha. Kondisi ini tidak hanya menyebabkan petani sangat tergantung pada pupuk anorganik tetapi juga telah merusak lahan, membunuh serangga yang bermanfaat dan meningkatnya kandungan bahan kimia pada produk pertanian.

“Kami mengusulkan PKM yang menekankan tentang pelaksanaan pelatihan pemanfaatan mengenai peptisida hayati atasi wereng. Juga  membuat pupuk hayati yang disebut pupuk PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria). Kita juga membuat percobaan yang nanti hasilnya dibandingkan dengan pertanian yang memakai pupuk kimia,” tambahnya.

Di sekitar kita banyak mikro organisme yang belum termanfaatkan, padahal sebenarnya bisa menjadi pupuk dan peptisida. “Misalnya pupuk  PGPR itu diambil dari akar bambu, putri malu, jagung. Manfaatnya ya untuk pupuk merangsang akar dan buah. Kami mengambil bakteri yang bermanfaat di akar,” jelasnya.

Proses yang mereka praktekan yakni akar diambil kemudian direndam air matang selama 3 hari, lalu hasil rendaman tersebut airnya disaring kemudian dapat biang bakteri. “Nah itu masih dikembangkan lagi dengan ditambahkan air leri kedelai dan ditambah gula pasir. Penempatan proses tersebut dari awal hingga akhir ini ditempatkan di tempat yang bersih dan tidak berminyak. Pemanfaatan pupuk hayati ini tentunya bisa menggantikan pupuk NPK dan Urea,” tambahnya.

Mahasiswa UNS ini mengajak para petani memanfaatkan bahan yang tak termanfaatkan. “Ya, untuk membuat petani jadi lebih mandiri, tanpa menggantungkan pupuk kimia yang ada. Pupuk hayati bisa digunakan untuk tanaman buah sehingga daun lebih lebat dan anakan lebih banyak. Kami sudah mencoba di mangga, cabai, terong, kelengkeng. Kalau di padi, anakannya jadi lebih banyak. Kalau dibandingkan dengan pupuk kimia, para petani kurang lebih bisa menghemat setengah biaya lah,” ujarnya.

 



Komentar Anda

loading...
KEMBALI KE ATAS badge