0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Bedhaya Ketawang 2 Jam Awali Jumenengan

Tarian Bedhaya Ketawang, sebagai simbol Jumenengan PB XIII (dok.timlo.net/ dhefi)

Solo — Prosesi Jumenengan Pakubuwono (PB) XIII Sinuhun Hangabehi dilaksanakan setiap tanggal 25 Rajab. Tahun ini, pelaksanaan Jumenengan bertepatan dengan Jumat Kliwon, yang selalu berulang selama sewindu (8 tahun) sekali.

Puncak acara Jumenengan diawali dengan prosesi Ladrang Sri Keraton. Dalam prosesi ini, PB XIII masuk ke dalam Dhampar Singgasana di Sasana Narendra, dimana singgasana raja berada. Setelah PB XIII duduk di singgasana, Bupati Estri menghadap Raja mohon perintah untuk memanggil Bupati Sepuh/Anom.

Setelah melapor pada raja, Bupati Estri selanjutnya memanggil seluruh Sentana yang berada di dalam Sasana Semarakatha menuju Sasana Sewaka. Para Sentana dari Maligi berjalan jongkok menuju Sasana Sewaka.

Menurut Pengageng Sasana Wilapa, KP Winarno, setelah semua Sentana duduk bersila, Bupati Estri memerintah pimpinan karawitan untuk membunyikan pathetan, atau musik gamelan untuk mengiringi penari.

“Puncaknya dilaksanakan dengan tarian Bedhaya Ketawang,” tutur Kanjeng Win –sapaan akrab KP Winarno, kepada wartawan, Jumat (15/6) saat acara digelar. Tarian Bedhaya Ketawang dilakukan oleh 9 penari dan 3 orang pembantu yang bertugas menyeka keringat penari. Mengingat, durasi tarian ini cukup lama, yang berlangsung sekitar 2 jam non stop.

Setelah tarian Bedhaya Ketawang selesai dilanjutkan dengan dibunyikannya gamelan Calapita. “Sinuhun (PB XIII Hangabehi–Red) lalu jengkar dari singgasana, berdiri dan menyalami tamu yang hadir,” tuturnya. Secara keseluruhan, prosesi jumenengan berlangsung selama 3 jam. Sampai berita ini diturunkan, prosesi Jumenengan masih berlangsung.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge