0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Wayang Potehi, Perpaduan Budaya Cina dan Jawa

Wayang Potehi ditampilkan di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) (dok.timlo.net/achmad khalik)

Solo — Pertunjukan Pekan Wayang Jawa Tengah 2012 di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Kentingan, Jebres, Solo, Selasa (12/6) menampilkan Wayang Potehi, yaitu kesenian wayang yang berasal dari Negeri Cina. Pertunjukan Wayang Potehi bisa disebut sebagai perpaduan budaya Cina dan Jawa.

Pertunjukan Wayang Potehi oleh Grup 5 Merpati Surabaya yang berdurasi 60 menit tersebut membawakan lakon “Sikang Watong”. Bercerita tentang seorang anak raja yang bernama Sikang Watong di Kerajaan Tongtyo dan mempunyai seorang menteri. Seorang punggawa kerajaan diberi hadiah raja dengan merayakan ulang tahun ke 100-nya dengan meriah.

Nah, dalam acara Ultah tersebut, sang raja membentuk sebuah tim keamanan yang dipimpin putra ketujuh bernama Lityo. Tanpa dinyana dalam acara tersebut, Sikang mabuk-mabukan dan membuat onar. Lalu, Lityo bertindak mengamankan Sikang. Namun Sikang bersikeras untuk tidak mau berubah, meskipun Lityo sudah berusaha menyadarkannya.

Akhirnya pertarungan pun tidak bisa dielakkan lagi. Pertarungan terjadi di antara keduanya dan tanpa sengaja tendangan Sikang mengenai Lityo sampai mati. Akhirnya Sikang ditetapkan sebagai buronan oleh kerajaan. Di akhir cerita, orangtua Sikang yang seorang raja tersebut terkena imbas oleh perbuatannya.

Menurut penuturan dalang Wayang Potehi, Sukar Mujiono, Wayang Potehi bercerita seputar budaya yang berasal dari Negeri Cina. Tetapi untuk pertunjukan biasanya sudah disisipkan dengan pesan-pesan moral yang bersifat positif. “Ceritanya berpusat pada Negeri Cina,” ujarnya.

Dijelaskan, sebelum jaman reformasi, Wayang Potehi ini sulit berkembang. “Kalau dulu hanya bermain di seputaran kelenteng. Tetapi setelah era reformasi, Wayang Potehi ini bisa berkembang seperti saat ini dan bisa dinikmati masyarakat luas,” ujarnya.

Inti dari cerita Wayang Potehi yang dipentaskan tersebut, lanjut Sukar Mujiono, agar kita selaku anak juga menjaga martabat orang tua. “Dalam pepatah jawa menyebutkan Anak Polah Bapak Kepradah’ seperti yang dialami Sikang tersebut. Dirinya begitu brutal sehingga orang tua lah yang harus menanggung akibatnya.  Nah, baik buruknya kita pasti orangtua terimbas,” jelasnya.

Menurut penuturan dalang wayang Potehi, Sukar Mujiono mengatakan wayang Potehi bercerita seputar budaya yang berasal dari negeri cina. Tetapi untuk pertunjukan biasanya sudah disisipkan dengan pesan-pesan moral yang bersifat positif.. “ceritanya berpusat pada negeri cina,” ujarnya.
Dia juga mengungkapkan, sebelum jaman reformasi wayang potehi ini sulit berkembang, tidak seperti saat ini. Kalau dulu hanya bermain di seputaran kelenteng. Tetapi setelah Era Reformasi, wayang Potehi ini bisa berkembang seperti saat ini dan bisa dinikmati oleh masyarakat luas.
Inti dari cerita wayang potehi yang di pentaskan tersebut, lanjut dia agar kita selaku anak juga menjaga martabat orang tua. Dalam pepatah jawa menyebutkan ‘Anak Polah Bapak Kepradah’ seperti yang dialami sikang tersebut. Dirinya begitu brutal sehingga orang tua lah yang harus menanggung akibatnya. “baik buruknya kita pasti orang tua terimbas,” jelasnya seusai pementasan wayang tersebut Selasa (12/6).



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge