0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Payung Hitam Jadi Saksi di Balai Soedjatmoko

Pemutaran film dokumenter "Payung Hitam" di balai Soedjatmoko, Sabtu (9/6) malam. (Dok.Timlo.net/ Achmad Khalik)

Solo — Sabtu (9/6) malam serasa tak biasa di Balai Soedjatmoko. Suasana haru dan mencekam meliputi penonton yang menyaksikan kejadian nyata tentang dua peristiwa yang pernah terjadi di negeri ini. Film dokumenter garapan sutradara Chairun Nissa tersebut membuat semua penonton untuk berpikir bahwa di negeri ini masih banyak permasalahan yang belum terselesaikan.

Film tersebut mengisahkan tentang perjuangan masyarakat yang menjadi korban kekerasan di tahun 1998. Mereka menuntut tanggung jawab pemerintah Indonesia atas hal yang mereka alami saat ini. Dalam film tersebut terdapat dua tokoh yakni Ibu Neneng warga Rumpin, Bogor, Jawa Barat dan ibu Sumarsih Warga Jakarta. Keduanya memiliki kisah kasus yang berbeda tetapi mengerucut pada satu hal yang sama yaitu mencari keadilan.

Dimulai dari kasus Ibu Neneng yang menceritakan tentang perampasan tanah warga Rumpin, Bogor, Jawa Barat tahun 2007, seluas 1000 hektar yang diambil oleh TNI (Angkatan Udara) guna pembangunan proyek Water Training. Sampai saat ini dirinya terus berjuang memperjuangkan haknya atas tanah tersebut. Dilanjutkan dengan tokoh kedua yaitu Ibu Sumiarsih yang kehilangan anaknya Wawan Atma Jaya korban penembakan aparat pada saat Tragedi Semanggi 1998. Kedua tokoh ini menunjukkan kegigihan mereka dalam memperjuangkan hak-hak serta ingin mendapat mendapatkan keadilan di negara yang kabarnya menjunjung tinggi hukum dan HAM (Hak Azasi Manusia).

Selain pemutaran film Payung Hitam juga diisi dengan acara bedah buku ‘Penyair Kebenaran di Republik Kekerasan’ karya Mutiara Andalas. Dalam bukunya tersebut bercerita tentang perjuangan ibu Sumiarsih dan rekan-rekannya yang setiap hari Kamis melakukan demonstrasi di depan istana Negara dengan membawa payung hitam sebagai simbol matinya negara dan ketidak pedulian pemerintah terhadap para korban.

Dalam pemutaran film berdurasi 30 menit ini, juga menghadirkan sang sutradara Chairun Nissa dan Ibu Sumiarsih sebagai pembicaranya. Menurut sang sutradara, dirinya tergerak memfilmkan tokoh ini karena wanita menganggap bahwa wanita merupakan simbol perdamaian dunia.

“Sebelum proses pemilihan 2 tokoh ini (Ibu Neneng dan Ibu Sumiarsih) saya sempat menyeleksi dari 10 tokoh perempuan yang menjadi kasus sejak tahun 1965. Dari penyeleksian tersebut, terpilihlah 2 tokoh yang mewakili tentang kasus pelanggaran HAM yaitu Ibu Neneng dan Ibu Sumiarsih,” ujar sang sutradara di depan penonton.

Salah seorang penonton, Riza Fitroh Kurniasih saat ditanyai tentang pemutaran film tersebut mengatakan, film tersebut bagus, karena menggambarkan realita peristiwa tanpa adanya proses editan. Film tersebut juga bisa menjadi referensi untuk para mahasiswa yang selama ini mereka hanya berorientasi pada perolehan nilai tanpa melihat fakta sosial yang terjadi di sekeleliling mereka.

“Film ini bagus, karena langsung menghadirkan pelaku-pelaku dalam film tersebut. Sehingga keaslian dari film inipun tidak diragukan,” ujar wanita yang kuliah di UMS itu.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge