0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Sri Martini

Menembus Hotel Bermodal Takwa dan Ikhlas

Sri Martini berpose menunjukkan ledre buatannya yang diberi label Ledre Laweyan (Dok. Timlo.net/Andi Penowo)

Solo —  Sudah 28 tahun Sri Martini berjuang merintis usaha rumahan dalam suka maupun duka. Dalam rentang waktu itu pula, wanita 70 tahun ini mengembangkan bisnis kecilnya dengan bertumpu pada ketakwaan dan keikhlasan.

Kini setelah lebih dari dua dasawarsa membuat dan menjajakan ‘ledre’, jerih payah Sri Martini akhirnya terbayarkan sudah. Jajanan tradisional hasil racikannya belakangan mulai banyak dilirik hotel berbintang di Kota Solo.

Lebih dari satu tahun terakhir, hotel berbintang tiga hingga lima selalu meminta Sri Martini membuatkan ledre bagi tamu hotel yang tengah berlibur ataupun menggelar acara di Kota Bengawan. Hotel-hotel ternama seperti Hotel Sahid Jaya Solo, Kusuma Sahid Prince Hotel, The Sunan Hotel Solo, Hotel Dana, Hotel Agas maupun Hotel Indah Palace tercatat sebagai pelanggan setianya.

Namun, di balik kesuksesan ini tersimpan sepenggal kisah perjuangan dan ketulusan seorang ibu demi menafkahi keluarganya. Bermula pada 1984, Sri Martini muda merintis usaha kuliner ledre guna membantu sang suami yang kala itu bekerja di tempat pembuatan sepatu. Tak gampang baginya memulai usaha yang sama sekali baru, mengingat sebelumnya Sri Martini berprofesi sebagai penjual kain batik.

Selama beberapa tahun, wanita yang tinggal dan membuka usaha di kampung Setono RT 02/II 158 Laweyan ini, memasarkan jajanannya ke perkumpulan arisan di kampung. Selain itu, ledre buatannya juga ia titipkan ke sejumlah toko jajanan yang ada di Kota Solo.

Hasilnyapun cukup untuk membantu sang suami menafkahi keempat anaknya. Namun tak disangka, di tengah perjuangannya merintis usaha, ujian datang menghampiri. Pada 1992, Sri Martini ditinggal belahan jiwanya menghadap Sang Kuasa untuk selamanya.

Kendati demikian, cobaan itu tak lantas membuat surut semangat wanita kelahiran 1942 ini. Berbekal ketakwaan dan keikhlasan, Sri Martini terus berjuang mengembangkan bisnisnya. Ia bahkan rela bangun jam dua malam hanya untuk menyiapkan pesanan ledre dan itu dilakukan demi menafkahi keempat anaknya.

“Dalam kondisi bagaimanapun, kita harus tetap takwa kepada Tuhan. Segala yang kita lakukan dikerjakan dengan ikhlas, walaupun susah dan berat. Semua demi keluarga,” katanya.

Berkat keseriusan, ketakwaan dan keikhlasan inilah lambat-laun ledre buatan Sri Martini dikenal banyak orang. Permintaan selain mengalir dari hotel berbintang juga banyak datang dari para aktivis keagamaan. Bukan itu saja, ledre yang ia namai Ledre Laweyan inipun selalu jadi langganan wisatawan domestik maupun mancanegara.

Kerja keras Sri Martini yang didasari ketakwaan dan keikhlasan, pada akhirnya memang memberikan jalan terang bagi diri dan keluarganya. Wanita yang berprinsip tidak ingin mengecewakan orang lain dan selalu menjaga kualitas produknya ini, sukses mengantarkan keempat buah hatinya menamatkan pendidikan dari Universitas Sebelas Maret, universitas negeri yang ada di Kota Solo.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge