0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Petani Gencarkan Gropyokan

Diserang Tikus, Panen Padi di Klaten Turun 50 %

Petani di Desa Jetiswetan, Kecamatan Pedan, Klaten melakukan gerakan gropyokan tikus dengan longses (Dok.Timlo.net/Indratno Eprilianto)

Klaten – Sejumlah petani di Desa Jetiswetan, Kecamatan Pedan, Kabupaten Klaten, mengeluhkan serangan hama tikus di lahan sawah mereka. Akibat serangan itu, petani mengaku hasil panen padi akan mengalami penurunan produksi hingga 50 persen.

“Dalam kondisi normal, dari sawah seluas 1.600 meter persegi bisa menghasilkan 1 ton gabah kering panen (GKP). Namun akibat dari serangan tikus ini, hasil produksi padi akan mengalami penurunan mulai dari 40-50 persen untuk panen mendatang,” kata Hardiyono (43) salah satu anggota Kelompok Tani Makmur Desa Jetiswetan, Jumat (8/6).

Hardiyono menuturkan, pada musim tanam kedua ini, hama tikus telah menyerang padi jenis Inpari 13 usia 80 hari. Dimana serangan ini mulai muncul sejak padi baru berusia dua minggu.

Ketua Kelompok Tani Makmur Desa Jetiswetan, Sardi Dirjopawiro mengatakan, guna menanggulangi agar serangan tikus tidak meluas, petani di desanya terus menggencarkan gerakan gropyokan tikus dengan cara menyulut longses yang diemposkan pada lubang tikus.

“Kegiatan gropyokan tikus rutin dilakukan seminggu sekali untuk menanggulangi agar serangan tidak meluas. Sebab jika didiamkan maka bisa dipastikan akan mengalami gagal panen,” ujar Sardi.

Petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Pedan, Joko Siswanto menjelaskan, di Kecamatan Pedan, serangan hama tikus sudah terlihat sejak musim tanam pertama. Serangan terus berlanjut hingga musim tanam kedua. Meski demikian serangan mulai mengalami penurunan.

“Luas area pertanian di Kecamatan Pedan sekitar 800 hektare. Pada musim tanam pertama, serangan sudah terlihat di lahan 48 hektare di 3 desa. Yakni Desa Jetiswetan, Jatimulyo dan Ngaren,” ungkap Joko.

Sejak serangan itu, kata Joko, petani terus melakukan gropyokan tikus dengan longses 6-7 kali setiap satu musim. Dari upaya itu, serangan hama tikus mulai mengalami penurunan. Dimana saat ini serangan hanya di lahan 13 hektare di tiga desa tersebut.

“Gropyokan dengan longses ini sangat efektif. Dimana tikus akan mati dengan sendirinya jika menghirup asap saat berada di dalam lubang,” imbuh Joko.

Sementara itu, Koordinator Pengamat Hama Dinas Pertanian (Dispertan) Klaten Sunarno menghimbau kepada para petani di wilayahnya untuk selalu mewaspadai hama tikus seiring perubahan cuaca yang terjadi.

“Seperti tahun-tahun sebelumnya, siklus serangan hama tikus biasanya muncul mulai Desember dan mencapai puncaknya pada bulan Maret hingga Juni,” ujarnya.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge