0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Ketan Bubuk Nyamleng Ditemani Kopi Tubruk

Ketan bubuk (dok.timlo.net/aris arianto)

Wonogiri — Ketan Bubuk Mas, mumpung isih esuk, lagi enak-enake lho! “. Kalimat tersebut meluncur dari mulut Sutini (55) penjual ketan bubuk yang mangkal di dekat lampu merah Gudang Seng, Wonogiri, Selasa (5/6). Setiap ada pejalan kaki lewat, kalimat yang sama pasti dilontarkannya.

“Ya, memang makan ketan bubuk itu enaknya kalau masih pagi Mas, masih anget-anget, apalagi minumnya wedang kopi tubruk, jan nyamleng tenan,” ujar Sutini kepada Timlo.net.

Ketan bubuk menurut nenek 2 orang cucu ini sebenarnya merupakan jajanan pasar yang sederhana. Hanya kombinasi antara ketan yang telah dikukus dicampur parutan kelapa dan taburan bubuk. Bubuk yang digunakan merupakan campuran kedelai digoreng sangrai, ditumbuk bersama gula pasir halus. Penyajiannya dengan diletakkan di atas bungkus pincuk kertas minyak berlapis daun pisang.

Meski demikian, saat ini khususnya di wilayah Wonogiri jarang sekali ditemui pedagang yang masih setia menjualnya. “Sebenarnya membuatnya tidak susah, tapi anak muda sekarang jarang ada yang mau mempelajarinya. Kalau saya hanya untuk kesibukan di usia tua, wong anak-anak sudah berkeluarga semua,“ kata Sutini.

Satu porsi ketan bubuk dijual dengan harga murah. Cukup Rp 2.500. “Murah meriah Mas, yang penting laku semua, Alhamdulillah setiap hari pasti habis, padahal saya buat ketan itu seharinya 4 kilo, ternyata masih banyak yang suka,” tambahnya.

 



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge